clicksor

Clicksor

Monday, December 20, 2010

PENGARUH MEDIA VISUAL DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13045750/PostedNovember23rd.rtf.html

abstraks:
Asriyanti, 2008, Pengaruh Penggunaan Media visual dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Biologi iswa Kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar. Skripsi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Makassar.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi-eksperimental research) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media visual dalam pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together (NHT) terhadap hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media visual, dan variabel terikatnya adalah hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP negeri 13 Makassar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar tahun ajaran 2007/2008 yang terbagi dalam 9 kelas dengan jumlah siswa secara keseluruhan adalah 320 orang. Sampel diambil secara acak (random), sehingga kelas VIII-3 terpilih sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 36 orang dan kelas VIII-6 terpilih sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 34 orang. Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pengumpulan data. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan dua cara, yaitu secara statistik deskriptif dan secara statistik inferensial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media visual memiliki nilai biologi dengan rata-rata 76,95 dan berada pada kategori baik. Sedangkan siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan media visual memiliki nilai biologi dengan rata-rata 57,75 dan berada pada kategori cukup. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif penggunaan media visual terhadap hasil belajar siswa.
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perubahan dan perkembangan aspek kehidupan perlu ditunjang oleh kinerja pendidikan yang bermutu tinggi. Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu bersaing di era globalisasi. Pendidikan mempunyai peranan yang sangat besar dalam membentuk karakter, perkembangan ilmu dan mental seorang anak, yang nantinya akan tumbuh menjadi seorang manusia dewasa yang akan berinteraksi dan melakukan banyak hal terhadap lingkungannya, baik secara individu maupun sebagai makhluk sosial.
Mengacu kepada Sistem Pendidikan Nasional (undang-undang No. 20 Tahun 2003), dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Sanjaya, 2006).
Konsep undang-undang di atas menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara atau masyarakat di masa mendatang.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik. Konsep pendidikan tersebut terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun yang akan datang.
Secara total, pendidikan merupakan suatu sistem yang memiliki kegiatan cukup kompleks, meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika menginginkan pendidikan terlaksana secara teratur, berbagai elemen (komponen) yang terlibat dalam kegiatan pendidikan perlu dikenali. Pendidikan dapat dilihat dari hubungan elemen peserta didik (siswa), pendidik (guru), dan interaksi keduanya dalam usaha pendidikan.
Sebuah realita bahwa di dalam suatu ruang kelas ketika kegiatan belajar berlangsung, sebagian besar siswa belum belajar ketika guru mengajar. Karp dan Yoels dalam Lie (2002) mencatat pengamatan mereka dan menemukan bahwa dalam kelas dengan siswa yang berjumlah kurang dari 40, hanya empat sampai lima siswa saja yang menggunakan 75% dari waktu interaksi yang digunakan. Selama guru tersebut belum memberdayakan seluruh potensi dirinya, maka sebagian besar siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari fakta, konsep, hukum, teori dan gagasan lainnya pada taraf ingatan. Mereka belum mampu menggunakan dan menerapkannya dalam pemecahan masalah sehari-hari yang sifatnya kontekstual.
David W. Jonhson dan Rogert T. Jonhson dalam Sahabuddin (1999) mengemukakan bahwa keefektifan belajar adalah implementasi yang berhasil dari komponen-komponen pengajaran. Masing-masing komponen pengajaran mempunyai hubungan dengan keterampilan guru. Oleh karena itu, di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memenuhi strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar.
B. O. Smith dalam Sahabuddin (1999) menyarankan bahwa guru harus disiapkan ke dalam empat bidang pengetahuan, yaitu menguasai pengetahuan teoritis mengenai belajar, menunjukkan sikap yang membantu perkembangan belajar, menguasai pengetahuan dalam mata pelajaran yang diajarkan, dan menguasai pengetahuan teknik penyajian pelajaran.
Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru. Dalam bermacam-macam teknik mengajar itu, ada yang menekankan peranan guru yang utama dalam pelaksanaan penyajian, tetapi ada pula yang menekankan pada media hasil teknologi modern, seperti televisi, film proyektor, dan bahkan seiring dengan kemajuan teknologi, media yang kini dianggap lebih efektif adalah media dengan bantuan komputer.
Metode mengajar (teknik penyajian) dan media pembelajaran adalah dua unsur yang sangat penting dalam suatu proses belajar mengajar. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai. Kolaborasi yang baik antara metode pembelajaran dengan media pembelajaran akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Salah satu metode pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan prinsip konstruktivistik adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini mengacu pada metode pembelajaran di mana peserta didik bekerja bersama dalam kelompok kecil dan saling membantu dalam belajar. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong dan dikehendaki untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama, dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut jika mereka berhasil sebagai kelompok.
Pembelajaran kooperatif menuntut guru untuk mampu mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan, agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua peserta didik sehingga tumbuh minat mereka untuk belajar. Selain itu guru juga harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (pakem). Salah satunya adalah dengan penggunaan media pengajaran visual.
Sistem pengajaran konvensional yang sampai kini masih banyak diterapkan di sekolah-sekolah, proses pembelajaran berpusat pada guru, dimana guru aktif menjelaskan sedangkan siswa bersifat pasif yang hanya mendengarkan dan mencatat saja. Hal ini tentu saja sangat membosankan bagi siswa itu sendiri sehingga mereka akan sulit untuk berkonsentrasi dan fikiran mereka pun melayang kemana-mana. Akibatnya tidak sedikitpun materi yang tersimpan dalam ingatan dan memori siswa. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam waktu yang lama maka minat, motivasi, aktivitas, dan hasil belajar siswa juga akan menurun.
Beberapa penelitian membuktikan belajar dengan mengalami langsung apa yang dipelajari akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain atau guru menjelaskan. Sebagai contoh, mengenal bahwa ada perbedaan antara susunan organ pencernaan pada ayam dengan sapi akan menjadi lebih jelas dan mantap jika siswa melihat atau mengamati susunan organ pencernaan pada ayam dan sapi, atau minimal mendapatkan gambaran melalui torso atau media visual lainnya daripada hanya mendengarkan penjelasan guru tentang hal tersebut. Membangun pemahaman dari hasil pengamatan akan lebih mudah daripada membangun pemahaman dari hasil uraian lisan.
Pemilihan media maupun metode pembelajaran harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Materi sistem pencernaan adalah materi yang memerlukan pengelolaan yang baik dalam penyajiannya, sebab materi ini menyangkut tentang organ-organ yang berada di dalam tubuh yang objeknya sulit untuk diadakan secara langsung di hadapan siswa. Tanpa ada penjelasan guru melalui gambar atau dalam bentuk torso, siswa akan kesulitan dalam mengenal dan membedakan bagian-bagian organ pencernaan tersebut. Akibatnya presentasi atau ceramah yang dilakukan oleh guru akan membosankan sehingga siswa kurang memahami materi pelajaran. Oleh karena itu sangat diperlukan adanya alat bantu dalam mengajar yaitu penggunaan media pembelajaran visual baik dalam bentuk model (torso), kartu indeks, maupun presentase materi melalui microsoft powerpoint.
Penggunaan media pengajaran visual dengan model pembelajaran kooperatif diharapkan mampu membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar siswa, membantu keefektifan proses pembelajaran, menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran, memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau yang diberikan, pembelajaran menjadi lebih menarik, membawa kesegaran dan variasi baru bagi pengalaman belajar siswa sehingga siswa tidak bosan da tidak bersikap pasif, serta dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu, dengan menghadirkan gambaran objek yang sedang dipelajari di dalam ruang kelas.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis bermaksud melakukan suatu penelitian eksperimen sebagai sebuah usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penggunaan media visual dalam model pembelajaran kooperatif tipe Number Heads Together (NHT).
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar pada pokok bahasan Sistem Pencernaan yang mengikuti metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan menggunakan media visual?
2.Bagaimana hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar pada pokok bahasan Sistem Pencernaan yang mengikuti metode pembelajaran kooperatif tipe NHT tanpa menggunakan media visual?
3.Apakah ada pengaruh media visual terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar pada pokok bahasan Sistem Pencernaan yang mengikuti metode pembelajaran kooperatif tipe NHT?
C.Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar pada pokok bahasan Sistem Pencernaan yang mengikuti metode pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan menggunakan media visual.
2.Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar pada pokok bahasan Sistem Pencernaan yang mengikuti metode pembelajaran kooperatif tipe NHT tanpa menggunakan media visual.
3.Untuk mengetahui pengaruh media visual terhadap hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Makassar pada pokok bahasan Sistem Pencernaan yang mengikuti metode pembelajaran kooperatif tipe NHT.
D.Manfaat Penelitian
1.Bagi siswa, memberikan suasana belajar yang lebih kondusif dan variatif sehingga siswa tidak monoton belajar dengan metode konvensional serta media tradisional, dan diharapkan hal ini membawa dampak pada peningkatan hasil belajar siswa.
2.Bagi guru, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih metode dan media pembelajaran yang lebih efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan.
3.Bagi peneliti, dapat menjadi bahan rujukan untuk tindakan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang.
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/pendidikan-biologi/pengaruh-media-visual-dalam-pembelajaran-kooperatif-tipe-number-heads-together-nht-terhadap-

Keefektifan Metode Ceramah yang Menggunakan Media Visual dan Metode Ceramah Murni dalam Pembelajaran Pendidikan Nilai di Sekolah Dasar
Sholikhul Waji D.P.

Abstract

This study aims to compare the effectiveness of lecturing technique using visual media and only lecturing technique in learning specific educational values in PPKn at elementary level. This study was conducted for 6 months at an elementary school in the District of Slawi, Tegal regency, Central Java. This study used purposive random sampling. The selected samples were 6 elementary schools (2 in the town, 2 in the village, and 2 in between the town and the village). From each school were selected 10 fifth year students, totaling 60 students. The data were collected through explorative experiment, and analysed using t-test. The findings showed that lecturing technique using visual media is more effective then lecturing technique only.

http://journal.um.ac.id/index.php/pendidikan-dan-pembelajaran/article/view/619

1 comment:

  1. Are you making money from your exclusive file uploads?
    Did you know that Mgcash will pay you an average of $0.50 per file download?

    ReplyDelete