clicksor

Clicksor

Saturday, January 8, 2011

Ramainya perdagangan di Nusantara

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13303261/filsafatilmu.docx.html

BAB I
PENDAHILUAN

A. Latar Belakang Permasalahan
Ramainya perdagangan di Nusantara yang melibatkan para pedagang di berbagai negara disebabkan melimpahnya hasil bumi dan letak Indonesia pada jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Melalui perdagangan tersebut, masuknya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia masih ada perbedaan pendapat. Sebagian ahli menyatakan bahwa agama Islam itu masuk ke Indonesia sejak abad ke-1 sampai abad ke-8 Masehi.
Lebih dari 80% penduduk Indonesia saat ini adalah pemeluk agama Islam. Padahal, kalau menilik sejarah, Islam adalah agama yang baru datang kemudian.
Agama asli nenek moyang Indonesia adalah animisme dan dinamisme. Animisme (dari bahasa Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh. Dalam kepercayaan animisme semua objek (seperti batu, gua, gunung, laut, hewan, dan tanaman) dan fenomena di bumi (seperti petir, hujan, gempa bumi, dan gerhana) seperti halnya manusia, mempunyai jiwa dan roh. Roh ini harus dihormati. Jika penghormatan tak dilakukan maka akan menimbulkan gangguan roh jahat dan membuat manusia menjadi celaka. Sedangkan, dinamisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki jiwa.
Kemudian datanglah agama Hindu. Agama ini dibawa oleh para pedagang dan resi dari India. Corak dan budaya yang dibawa agama Hindu sangat cocok dengan keadaan Indonesia saat itu, sehingga agama ini diterima secara luas dan menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia.
Setelah munculnya agama Budha di India, tak lama kemudian, agama ini pun menyebar di Indonesia. Agama Budha yang tak mengenal kasta mudah diterima oleh penduduk Indonesia. Dan, menjadi salah satu agama yang dominan di bumi nusantara.
Kedua agama dominan ini membentuk lapisan masyarakat baru di Indonesia: golongan bangsawan dan keluarga kerajaan. Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu dan Budha silih bergantian muncul di nusantara.
Posisi Indonesia yang terletak pada jalur perdagangan strategis yang menghubungkan dua kutub kebudayaan besar dunia saat itu: Cina di timur dan India serta jazirah Arab di barat, membuat sulit dipastikan, siapa yang pertama kali membawa Islam ke Indonesia.
Wilayah Indonesia yang luas dan berpulau-pulau membuat kepastian di mana pertama kali wilayah Indonesia menerima Islam, sulit dipastikan.
Islam masuk di Indonesia pada abad ke-13 Masehi, dibawa oleh pedagang dari Gujarat, India. Ada pendapat lain bahwa masuknya agama Islam di Indonesia melalui kesepakatan sebagai berikut :
1. Islam masuk Indonesia pada abad 1 Hijriah atau abad 7 M.
2. Agama Islam masuk di Indonesia tidak melalui India, tetapi langsung dari Mekah.
3. Dalam perkembangannya Islam di Indonesia banyak diwarnai oleh madzhab Syafi’i. Masuknya Islam ke Indonesia menurut pendapat lain ada 3 teori yaitu teori Persia, Teori Gujarat dan Teori Mekah, yaitu penjelasannya sebagai berikut :
1. TEORI PERSIA Teori ini dibangun oleh P.A. Hussein Djayadiningrat. Teori ini lebih menitikberatkan tinjauannya kepada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam di Indonesia yang dirasakan memiliki persamaan dengan Persia. Salah satu persamaan tersebut adalah : Peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai peringatan syiah atas kematian Syahidnya Husain.
2. TEORI GUJARAT Teori Gujarat adalah teori yang menyatakan bahwa datangnya Islam di Indonesia berasal dari Gujarat. Teori ini dikemukakan oleh Snouck Hurgronye. Dengan alasan agama Islam disebarluaskan melalui jalan dagang antara Indonesia dengan Cambay (Gujarat).
Menurut J.C. Van Leur, masuknya Islam pada 7 M bukan pada 13 M. Sedangkan pada abad 13 M itu perkembangannya.
3. TEORI MEKAH Teori ini dipelopori Hamka. Ia berpendapat tersebut karena Mekah sebagai pusat agama Islam. Dan ia menolak pendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 sebab Islam masuk Indonesia jauh sebelum abad ke-7.
Dapat diperkirakan bahwa agama Islam sudah masuk di Nusantara pada abad ke-8 dan pada abad ke-13 agama Islam sudah menyebar di beberapa daerah di Sumatra, daerah pantai Semenanjung Malaka, juga beberapa daerah di Pulau Jawa.
Teori pembawa Islam ke Indonesia :
1) Melalui pedagang, Gujarat Berdasarkan kesaksian Marcopolo yang menyatakan bahwa dalam kunjungannya ke Perlak pada tahun 1292, ia menyaksikan pedagang Gujarat yang menyiarkan agama Islam.
2) Melalui pedagang Persia, Dari para pedagang ke dua suku (suku Laren dan Jawi) itulah yang mengajarkan huruf Arab di Pulau Jawa yang dikenal dengan huruf Arab Pegon. Adanya pasang dalam bahasa Arab yang disebut jabar jer. Istilah ini termasuk bahasa Iran yang dalam bahasa Arab disebut fathah kasroh. Selain dari itu pada bulan Muharram, Husein putra Ali meninggal di Harbala. Di Persia upacara peringatan meninggalnya Husein ditandai dengan mengarak peti yang disebut tabut. Oleh karena itu, bulan Muharram dikenal dengan sebutan bulan tabut, oleh masyarakat Aceh dan masyarakat Minangkabau. Hal itu menunjukkan adanya pengaruh Persia.
3) Masuknya Islam melalui pedagang Arab atau Mesir
Dua alasan yang dikemukakan oleh Hamka adalah sebagai berikut :
a. Raja-raja Pasai menganut madzhab Syafi’i. Penganut madzhab Syafi’i yang terbesar pada saat itu berasal dari masyarakat Mesir dan Mekkah. Bila agama Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari Persia, tentu banyak masyarakat Indonesia yang menganut aliran Syiah seperti Persia atau bermadzhab Hanafiah seperti di India.
b. Gelar Malik yang digunakan raja-raja Samudra Pasai berasal dari Mesir. Sedangkan gelar Syah yang berasal dari Persia baru digunakan oleh raja Malaka pada awal abad ke-15.



B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah tersebut di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Melalui jalur-jalur apa saja Islam masuk ke Indonesia?
2. Jelaskan teori-teori yang menjelaskan masuknya Islam di Indonesia!
3. Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia!
4. Dampak positif dan negatif masuknya Islam ke Indonesia bagi bangsa Indonesia

C. Tujuan Masalah

Dari rumusan maslah tersebut dapat diambil beberapa tujuan. Adapun tujuan dari permasalahan tersebut adalah :
1. Mengetahui beberapa jalur masuknya Islam ke Indonesia
2. Untuk mengetahui teori-teori yang menjelaskan masuknya Islam ke Indonesia
3. Mengetahui lebih lanjut mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia
4. Mempelajari dan mengetahui dampak positif dan negatif masuknya Islam ke Indonesia bagi bangsa Indonesia

D. Metode Penelitian Sejarah
Untuk memperoleh data-data di atas diperlukan metode-metode penelitian sejarah yaitu :
secara garis besar, meliputi proses pencarian dan pengumpulan sumber serta pengolahan data sehingga diperoleh fakta. Proses ini teraplikasikan dalam tahap-tahap tertentu yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu (1) heuristik, (2) kritik, (3) interpretasi, dan (4) historiografi atau penulisan sejarah.
Heuristik
Heuristik merupakan sebuah proses pencarian dan pengumpulan sumber yang berkaitan dengan sebuah objek penelitian. Menurut Louis Gottchalk ada dua hal penting yang harus diperhatikan seorang peneliti pada tahap heuristik ini, yaitu
(1) pemilihan subjek; dan (2) informasi tentang subjek.
Proses pemilihan subjek mengacu pada empat pertanyaan pokok, yaitu di mana (aspek geografis), siapa (aspek biografis), kapan (aspek kronologis), dan bagaimana (aspek fungsional atau okupasional). Melalui empat pertanyaan pokok ini, penelitian sejarah akan lebih terfokus dan terarah. Adapun informasi tentang subjek bisa didapatkan dari beragam sumber, seperti sumber sezaman berupa arsip-arsip pemerintah, rekaman stenografis, laporan tahunan, berita surat kabar, surat-surat pribadi, jurnal, brosur, buku harian, memoar, otobiografi, folklor, dan sebagainya. Sumber-sumber ini bukan merupakan “barang jadi”, akan tetapi sebagai sumber informasi tentang subjek yang harus diuji kebenarannya.
Kritik
Sumber-sumber yang telah dikumpulkan tersebut -baik berupa sumber benda, sumber tertulis, maupun sumber lisan- kemudian diverifikasi atau diuji melalui serangkaian kritik, baik yang bersifat ekstern ataupun intern. Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keabsahan dan otentisitas sumber. Peneliti dapat bertanya dan mengecek otentisitas sumber tersebut, semisal: mengecek tanggal penerbitan dokumen, mengecek bahan dokumen, semacam kertas dan tinta, apakah tampilannya selaras ataukah tidak dengan waktu terjadinya peristiwa, memastikan apakah dokumen tersebut termasuk sumber asli atau turunan; semacam fotokopi atau salinan, dan memastikan apakah sumber tersebut masih utuh atau sudah berubah.
Adapun kritik intern diperlukan untuk menilai tingkat kelayakan atau kredibilitas sumber. Kredibilitas sumber biasanya mengacu pada kemampuan sumber untuk mengungkapkan kebenaran suatu peristiwa sejarah.
Kemampuan sumber meliputi kompetensi, kedekatan atau kehadiran si sumber dengan peristiwa sejarah. Sedangkan kejujuran sumber berkaitan dengan tingkat subjektivitas, kepentingan, dan mau tidaknya sumber mengungkapkan kebenaran.
Interpretasi
Tahap selanjutnya adalah interpretasi, yaitu berupa analisis (menguraikan) dan sintesis (menyatukan) fakta-fakta sejarah. Hal ini dilakukan agar fakta-fakta yang tampaknya terlepas antara satu sama lain bisa menjadi satu hubungan yang saling berkaitan. Dengan demikian, interpretasi dapat dikatakan sebagai proses memaknai fakta-fakta sejarah.
Historiografi
Setelah melakukan proses analisis dan sintesis, proses kerja mencapai tahap akhir yaitu historiografi atau penulisan sejarah. Proses penulisan dilakukan agar fakta-fakta yang sebelumnya terlepas satu sama lain dapat disatukan sehingga menjadi satu perpaduan yang logis dan sistematis dalam bentuk narasi kronologis.

No comments:

Post a Comment