clicksor

Clicksor

Sunday, January 9, 2011

Contoh Skripsi

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13321211/skripsikomplet.docx.html

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat pesat menyebabkan munculnya berbagai gejala sosial dan perubahan dalam masyarakat, hal ini memerlukan kesiapan diri dari sumber daya manusia. Guna mengantisipasinya diperlukan program pendidikan yang berkualitas, yang menyediakan berbagai pengetahuan, dan keterampilan, sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh, mandiri, tanggung jawab dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan suatu bangsa. Perkembangan IPTEK yang pesat menuntut suatu bangsa untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat bersaing dengan bangsa lain di dunia. Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu dengan mengadakan perbaikan dalam proses belajar mengajar. Upaya peningkatan hasil-hasil pendidikan dapat berupa perubahan paradigma manajemen pendidikan di sekolah, pemberlakuan kurikulum 2004, KBK atau KTSP disemua jenjang pendidikan di sekolah dan penerapan temuan pendekatan pembelajaran oleh para ahli pendidikan (Supartono, 2006 : 3).
Upaya-upaya tersebut menjadi tanggung jawab semua tenaga kependidikan, salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah penggunaan pendekatan pembelajaran dan media pengajaran yang diharapkan mampu mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.
Kurikulum yang diberlakukan sekarang menyatakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir saja, akan tetapi proses pembelajarannya juga diperhatikan. Dalam penerapan kurikulum KTSP ini guru dituntut untuk dapat menyampaikan materi tidak hanya dalam bentuk hafalan-hafalan melainkan harus menanamkan pemahaman yang mendalam kepada siswa yang pada akhirnya siswa dapat memahami dan mengembangkan apa yang telah diperolehnya. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning).
Dalam metode CTL proses pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata yang dialami oleh siswa. Pembelajarannya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan. Pembelajaran dengan metode CTL menekankan pada keaktifan dari siswa, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator sedangkan siswa mengkonstruksi sendiri pengalaman yang diperoleh dalam bentuk makalah, sehingga dari pengalaman ini pemahaman siswa terhadap materi akan lebih mengena.
Pembelajaran dengan metode CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Trianto, 2007 : 103).
Pembelajaran yang pada umumnya dilaksanakan oleh guru lebih banyak menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman. Sedangkan aspek aplikasi, analisis, sintesis bahkan evaluasi hanya sebagian kecil dari pembelajaran yang dilakukan. Guru selama ini lebih banyak memberi konvensional dan latihan mengerjakan soal dengan cepat tanpa memahami konsep secara mendalam.
Berdasarkan observasi awal yang telah penulis lakukan melalui wawancara dengan guru ekonomi SMP N I MRANGGEN proses pembelajaran IPS yang diterapkan masih menggunakan metode konvensional dan dengan itu diketahui bahwa penguasaan materi pada siswa masih rendah. Hal ini diperkuat dengan adanya data bahwa masih terdapat sekitar 67 % dari siswa dalam kelas (VIII E) yang nilainya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan standar ketuntasan 65.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin meneliti penggunaan metode CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasis belajar kimia dengan judul “ Efektifitas Penggunaan Metode Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) Dalam Materi Pokok Angkatan Kerja Terhadap Hasil Belajar Siswa SMP N I Mranggen Kelas VIII Semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009”.
RUMUSAN MASALAH
Sehubungan dengan penggunaan CTL sebagai metode dalam pembelajaran di sekolah, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana efektifitas penggunaan metode pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dalam materi pokok angkatan kerja terhadap hasil belajar siswa SMP N I Mranggen Kelas VIII Semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009?
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui efektifitas penggunaan metode pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dalam materi pokok angkatan kerja terhadap hasil belajar siswa SMP N I Mranggen Kelas VIII Semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain :
Bagi Siswa
Dapat meningkatkan tingkat keaktifan siswa dalam KBM serta pemahaman materi dan hasil belajar siswa.
Siswa yang kesulitan dalam memahami materi pokok angkatan kerja akan lebih memahaminya karena adanya metode CTL ini.
Mengubah situasi pembelajaran sehingga proses pembelajaran tidak membosankan.
Bagi guru
Sebagai bahan pertimbangan dan informasi dalam memilih metode pembelajaran yang efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Bagi peneliti
Memperoleh variasi metode pembelajaran yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas sehingga dapat meminimalkan masalah-masalah yang terjadi dalam pembelajaran
Bagi sekolah
Memberikan perbaikan kondisi pembelajaran, sehingga dapat membantu menciptakan panduan pembelajaran bagi mata pelajaran lain dan bahan pertimbangan dalam membuat keputusan penggunaan metode pembelajaran yang akan diterapkan.






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Efektifitas
Efektifitas adalah sebuah pengertian yang menggambarkan perbandingan terbaik antara suatu hasil dalam realitas dengan hasil yang ditargetkan (Kasmadi, Hartono. 1991:9). Secara umum, keefektifan dihubungkan dengan pencapaian sasaran yang telah ditentukan atau perbandingan hasil nyata dengan hasil ideal. Keefektifan menunjuk kepada hasil evaluasi terhadap proses yang menghasilkan keluaran yang dapat diamati. Dengan demikian keefektifan dapat dikatakan sebagai suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh tindakan atau usaha yang mendatangkan hasil guna dan mencapai tujuan.
”Suatu pekerjaan dapat dikatakan efektif ialah kalau pekerjaan itu memberi hasil yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan semula, dengan kata lain kalau pekerjaan itu sudah mampu merealisasi tujuan organisasi dalam aspek yang dikerjakan itu.(Pidarta, 1992:12)”
Suatu usaha dikatakan efektif apabila usaha itu mencapai tujuannya sedangkan efektifitas adalah kemampuan untuk melakukan hal yang tepat atau untuk menyesuaikan sesuatu dengan baik. (Handoko,1995:7).
Jadi efektifitas dalam penelitian adalah pengertian yang menggambarkan perbandingan terbaik antara suatu hasil dalam realitas dengan melakukan hal-hal yang tepat sehingga hasil yang ditargetkan sesuai atau lebih besar dari kriteria yang ditetapkan semula.

Kajian tentang belajar
Pengertian Belajar
Morgan dalam Anni (2007:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Sedangkan menurut Gagne dalam Anni (2007:2) belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui upaya yang dilakukan dan perubahan itu bukan diperoleh secara langsung dari proses pertumbuhan dirinya secara alamiah. Menurut Hilgard dalam Sanjaya (2008:112) belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor yang tidak termasuk latihan. Dari ketiga pendapat tersebut belajar merupakan tingkah laku yang diperoleh melalui upaya secara sengaja. Perolehan belajar tidak hanya berupa pengetahuan saja melainkan bermacam-macam antara lain: fakta, konsep, keterampilan, sikap, nilai atau norma dan kemampuan lain.
Skinner dalam Anni (2007:20) belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku. Perilaku dalam belajar memilki arti luas, yang sifatnya bisa berwujud perilaku yang tidak tampak (innert behaviour) atau perilaku yang tampak (overt behaviour). Sebagai suatu proses, dalam kegiatan belajar dibutuhkan waktu sampai mencapai hasil belajar, dan hasil belajar itu berupa perilaku yang lebih sempurna dibandingkan dengan perilaku sebelum melakukan kegiatan belajar.
Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan dalam diri seseorang. Oleh sebab itu belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Apabila kita berbicara mengenai belajar maka kita berbicara bagaimana mengubah tingkah laku seseorang.(Sudjana:28)
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 :3).
Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya (Darsono 2000 : 64),
Jadi belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dialami seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang berupa peningkatan kinerja, pembenahan pemikiran atau penemuan konsep-konsep dan cara-cara yang baru yang meliputi ranah kognitif, psikomotorik dan afektif.
Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana (2001: 21), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
Dalam proses pembelajaran, hasil belajar merupakan hal yang penting karena dapat menjadi tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar dan sejauh mana sistem pembelajaran yang diberikan guru berhasil atau tidak. Menurut Nana Sudjana (1989:50), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki atau dikuasai siswa setelah menempuh proses belajar. Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus dapat tercapai.
Dari pendapat-pendapat tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang nampak pada diri siswa setelah melakukan suatu kegiatan.
Menurut Bloom dalam Sudjana (2002 :22) hasil belajar dibedakan menjadi 3 ranah yaitu :
Ranah kognitif
Pada ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Ranah afektif
Pada ranah ini berkenaan dengan sikap dan nilai.Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Sikap afektif dapat terlihat dalam hal :
Kemauannya untuk menerima pelajaran dari guru-guru
Perhatiannya terhadap apa yang dijelaskan oleh guru
Keinginannya untuk mendengarkan dan mencatat uraian guru
Penghargaannya terhadap guru itu sendiri
Hasratnya untuk bertanya kepada guru.
Kemauannya mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut
Kemauannya untuk menerapkan hasil pelajaran dalam praktek kehidupannya sesuai dengan tujuan dan isi yang terdapat dalam mata pelajaran
Senang terhadap guru dan mata pelajaran yang diberikannya.
Ranah psikomotorik
Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotorik dapat di lihat berikut :
Segera memasuki kelas pada waktu guru datang dan duduk paling depan dengan mempersiapkan kebutuhan belajar
Mencatat bahan pelajaran dengan baik dan sistematis
Sopan, ramah, dan hormat kepada guru pada saat guru menjelaskan pelajaran
Bertanya kepada guru mengenai bahan pelajaran yang belum jelas
Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang materi pelajaran
Melakukan latihan dalam memecahkan masalah berdasarkan konsep bahan yang diperolehnya atau menggunakannya dalam praktek kehidupannya.
Mau berkomunikasi dengan guru, dan bertanya atau meminta saran bagaimana mempelajari mata pelajaran yang akan diajarkannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri siswa. Faktor internal meliputi faktor biologis (usia, kematangan, kesehatan) dan faktor psikologis (kelelahan, suasana hati, motivasi, minat, dan kebiasaan belajar).
Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa yang meliputi manusia (keluarga, sekolah, masyarakat) dan non-manusia (udara, suara, bau-bauan) (Arikunto, 1980 :21)
Seperti yang telah dijelaskan dimuka bahwa belajar adalah usaha untuk memperoleh pengetahuan sehingga proses belajar mengajar akan mengakibatkan terjadinya proses tingkah laku yang dapat membandingkan seseorang sebelum dan sesudah mengalami peristiwa belajar.
PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM
Pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh pendidik untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dimana pendidik dan peserta didik melakukan interaksi edukatif antara satu dengan yang lainnya.
Pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa antar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku.
Ciri-ciri pembelajaran adalah sebagai berikut :
Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang siswa
Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.
Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik fisik maupun psikologis.
Karena pembelajaran dilakukan secara sadar dan disengaja, maka pembelajaran pasti mempunyai tujuan. Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman iu tingkah laku siswa bertambah baik, secara kualitas maupun kuantitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.
Kegiatan pembelajaran meliputi belajar dan mengajar yang keduanya saling berhubungan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan siswa untuk membangun makna atau pemahaman siswa terhadap suatu objek atau peristiwa. Sedangkan kegiatan mengajar merupakan upaya menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan.
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi. Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan efektif bila seluruh komponen mendukung yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran yang saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan.
Dalam proses belajar mengajar ekonomi juga mengandung komponen-komponen yang hendak dicapai yaitu :
Tujuan
Dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi, tujuannya adalah mengenalkan fakta tentang peristiwa dan memecahkan permasalahan ekonomi.
Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran ekonomi disusun secara sistematis, komprehensif dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat.


Kegiatan Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, terjadi interaksi antara guru dan siswa. Dimana interaksi tersebut siswa dituntut lebih aktif, sedangkan guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator.
Metode
Dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi, metode diperlukan oleh seorang guru dan penggunaannya bervariasi disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan pada siswa.
Alat
Pada kegiatan belajar mengajar ekonomi menggunakan alat untuk mempermudah mencapai tujuan. Alat yang digunakan bervariasi yaitu media belajar ataupun berupa motivasi dan perintah yang dapat membantu siswa dalam proses belajar mengajar.
Sumber Pelajaran
Sumber belajar merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi siswa. Sumber belajar dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi antara lain dengan menggunakan buku paket yang ada di sekolah maupun buku penunjang lainnya serta Lembar Kerja Siswa (LKS).
Penentuan strategi dan juga metode mengajar perlu diambil jauh sebelum pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa faktor penentu dalam penyusunan strategi mengajar, seperti :
Tujuan yang hendak dicapai
Keadaan dan kemampuan siswa
Keadaan dan kemampuan guru
Lingkungan masyarakat dan sekolah serta
sistem lain yang bersifat khusus
Dilihat sebagai suatu sistem, masing-masing faktor ini merupakan komponen yang saling berhubungan dalam keseluruhan proses belajar mengajar.
Pembelajaran mata pelajaran ekonomi sebagai suatu sistem adalah keseluruhan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran akan berhasil jika ada Feed Back atau timbal balik yang baik antara guru dengan peserta didik atau siswa. Seorang guru harus berusaha sebaik mungkin agar siswa dapat membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan memahami apa yang dipelajari. Sehingga akan membentuk suatu perubahan pada diri siswa sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.
Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan pendidik dengan tujuan untuk merubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik. Dalam pembelajaran ekonomi yang tidak berbeda dengan pembelajaran pada umumnya, yang juga menitik beratkan pada peserta didik atau siswa, tujuan dan prosedur kerja untuk mencapai tujuan.
Maka peran guru dalam memberi motivasi kepada siswa agar siswa mempunyai kemauan belajar yang tinggi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru ekonomi harus bisa menyampaikan suatu materi kepada siswa secara lengkap dan dapat menarik siswa agar tidak jenuh dengan pembelajaran.
Metode Pembelajaran Konvensional
Secara deskriptif mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru ke siswa. Proses ini juga disebut proses mentransfer ilmu dimana guru berperan penting dengan berjalannya proses belajar mengajar. Sehubungan dengan proses pembelajaran yang berpusat pada guru, maka minimal ada tiga peran utama yang harus dilakukan guru, yaitu guru sebagai perencana, sebagai penyampai informasi, dan guru sebagai fasilitator.
Dalam menyampaikan perannya sebagai perencana maupun penyampai informasi guru biasa memakai metode konvensional. Metode ini merupakan metode yang dianggap ampuh dalam proses pengajaran. Pengertian dari metode konvensional adalah konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran yang menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi pelajaran (Sanjaya, 2008 : 97).
Metode konvensional mempunyai berbagai karakteristik sebagai berikut :
Proses Pengajaran Berorientasi Pada Guru
Dalam proses pengajaran guru memegang peranan yang sangat penting. Guru menentukan segalanya. Karena begitu pentingnya guru maka nerjalannya proses pengajaran hanya akan berlangsung manakala ada guru dan tidak mungkin ada proses pembelajaran tanpa guru.

Siswa Sebagai Objek Belajar
Konsep ini menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi pelajaran. Mereka dianggap sebagai organisme yang pasif, yang belum memahami apa yang harus dipahami, sehingga melalui proses pengajaran mereka dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. Peran siswa adalah sebagai penerima informasi yang diberikan guru
Kegiatan Pengajaran Terjadi Pada Tempat Dan Waktu Tertentu
Proses pengajaran berlangsung pada tempat tertentu, misalnya terjadi di dalam kelas dengan penjadwalan yang ketat, sehingga siswa hanya belajar manakala ada kelas yang telah didesain sedemikian rupa sebagai tempat belajar. Adanya tempat yang telah ditentukan, sering proses pengajaran terjadi secara formal.
Tujuan Utama Pengajaran Adalah Penguasaan Materi Pelajaran
Keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Kadang-kadang siswa tak perlu memahami apa gunanya mempelajari bahan tersebut. Oleh karena kriteria keberhasilan ditentukan oleh penguasaan materi pelajaran, maka alat evaluasi yang digunakan biasanya adalah tes hasil belajar tertulis (Sanjaya, 2008 : 98).
Metode Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning)
Pengertian Pembelajaran CTL
Pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Trianto, 2007 : 103).
Johnson (2007 : 67), mendefinisikan sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka.
Dari konsep tersebut ada 3 hal yang terlihat dari metode CTL yaitu:
CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi yaitu proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung dan tidak mengharapkan siswa hanya menerima tetapi mencari dan menemukan sendiri.
CTL mendorong agar siswa menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata, sehingga materi yang dipelajari tidak akan mudah dilupakan.
CTL mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Komponen CTL
Pembelajaran dengan metode CTL mempunyai tujuh komponen utama yaitu : Konstruktivisme (Constuctivism), bertanya (Questioning), Menemukan (Inquiri), Masyarakat belajar (Learning Society), pemodelan (Modelling), Refleksi (Reflection), Penilaian yang sesungguhnya (Authentic Assesment) (Trianto, 2007:121).

Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan konstektual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan “menerima” pengetahuan.
Bertanya
Dalam sebuah pembelajaran, kegiatan bertanya berguna untuk :
Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis.
Mengecek pemahaman siswa.
Membangkitkan respon kepada siswa.
Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendakinya.
Membangkitkan lebih banyak pertanyaan dari siswa
Menyegarkan kembali pengetahuan siswa. (Trianto, 2007 : 110)
Menemukan
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Siklus inkuiri terdiri dari :

Observasi
Bertanya
Mengajukan Dugaan
Pengumpulan Data
Penyimpulan
Masyarakat Belajar
Masyarakat belajar
Menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat.
Pemodelan
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang biasa ditiru oleh siswanya. Dalam pembelajaran konstektual, guru bukan satu-satunya model. Permodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang bisa ditunjukkan untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahuinya.
Refleksi
Refleksi adalah cara berfikir apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu (Trianto, 2007:113). Realisasi dari refleksi yaitu : pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, Catatan atau jurnal di buku siswa, Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, diskusi, hasil karya.
Penilaian autentik
Adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Ini untuk menghindari adanya kemacetan dalam belajar dengan mengambil tindakan secara cepat bila terjadi masalah.
Prinsip Ilmiah CTL
CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu sistem yang memungkinkan para siswa melihat makna didalamnya, dan mengingat materi akademik. Tiga prinsip ilmiah dalam CTL :
Prinsip kesaling-bergantungan dan CTL
Prinsip kesaling-bergantungan ada di dalam segalanya sehingga memungkinkan para siswa utnuk membuat hubungan yang bermakna. Pemikiran yang kritis dan kreatif menjadi mungkin. Kedua proses itu terlibat dalam mengidentifikasi hubungan yang akan menghasilkan pemahaman-pemahaman baru. Lebih jauh lagi, prinsip kesaling-bergantungan memungkinkan kita memasangkan tujuan yang jelas pada standar akademik yang tinggi dan juga mendukung kerja sama.

Prinsip diferensiasi
CTL menggambarkan cinta alam semesta terhadap keragaman. Mengingat para siswa tidak sama, system CTL memberi mereka perhatian individual yang lebih panjang dan terkonsentrasi. Para guru CTL berfokus pada seorang siswa secara keseluruhan. Mereka mengerti kehidupan rumah si siswa, adatnya, kondisi ekonominya, gaya belajarnya, dan minatnya. Mereka menanggapi kebutuhan-kebutuhan khusus dan aspirasi setiap siswa. Selain memungkinkan adanya keunikan, keragaman, dan kretifitas, prinsip diferensiasi juga mengajak pada kerja sama.
Prinsip pengaturan diri
Menyatakan bahwa setiap entitas terpisah di alam semesta memiliki sebuah potensi bawaan, suatu kewaspadaan atau kesadaran yang menjadikannya sangat berbeda. Karena prinsip pengaturan diri, segala sesuatunya diatur oleh diri sendiri dan disadari oleh diri sendiri sehingga suatu kenyataan di dalamnya membuat mampu mempertahankan identitas yang berbeda. Prinsip pengaturan diri meminta para pendidik untuk mendorong setiap siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya.
Materi Pokok Angkatan kerja
Salah satu sumber daya yang penting dalam kegiatan produksi adalah sumber daya manusia (penduduk). Akan tetapi, tidak semua penduduk dapat secara produktif terlibat di dalam pasar kerja. Hal ini karena ada penduduk yang memang berada di luar usia kerja dan ada sebagian penduduk usia kerja namun belum atau tidak terlibat di pasar kerja.

Konsep Angkatan kerja
Angkatan kerja Permasalahan Angkatankerja
Kebijakan Pemerintah
Dalam Angkatan kerja
Gb. Konsep pembelajaran angkatan kerja
Konsep Angkatan kerja
Penduduk dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu penduduk usia kerja (15 tahun), dan penduduk bukan usia kerja (dibawah usia 15 tahun). Penduduk usia kerja sering disebut tenaga kerja (man power), meskipun sebenarnya pengertian :
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Tenaga kerja lebih mengarah kepada penduduk usia kerja yang mampu melakukan suatu pekerjaan. Menurut UU No. 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Tenaga kerja dapat juga diartikan sebagai penduduk yang berada dalam batas usia kerja. Tenaga kerja disebut juga golongan produktif.(Fattah 2008: 305) Jadi tidak semua yang masuk dalam usia kerja akan memasuki dan terlibat pasar kerja.
Pasar kerja adalah seluruh aktifitas dari pelaku-pelaku untuk mempertemukan pencari kerja dengan lowongan kerja, atau proses terjadinya penempatan dan atau hubungan kerja melalui penyediaan dan penempatan tenaga kerja. Penduduk usia kerja yang tidak masuk ke dalam pasar kerja disebut dengan bukan angkatan kerja yaitu kelompok penduduk usia kerja yang melakukan kegiatan sekolah, mengurus rumah tangga, dan orang yang menerima pendapatan meskipun tidak bekerja, yaitu pensiunan, penerima hasil sewa rumah, penerima bunga simpanan atau orang yang tidak mampu bekerja karena berusia lanjut atau cacat.
Dalam angkatan kerja istilah bekerja adalah melakukan pekerjaan mengahasilkan barang dan jasa dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit lima jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu.
Permasalahan Angkatan kerja
Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar menyebabkan jumlah angkatan kerjanya juga sangat besar. Akibatnya permasalahan angkatan kerja yang dihadapi Indonesia juga sangat banyak dan rumit dibandingkan dengan negara lain dengan penduduknya yang sedikit. Salah satu permasalahan angkatan kerja adalah pengangguran yang berhubungan dengan penawaran tenaga kerja, persediaan tenaga kerja, permintaan tenaga kerja dan kebutuhan tenaga kerja.
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah orang yang tersedia dan dapat digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pada tingkat upah tertentu. Sedangkan persediaan tenaga kerja pengertiannya sama, hanya persediaan tenaga kerja tidak menggunakan pertimbangan tingkat upah. Adapun permintaan tenaga kerja adalah jumlah orang yang diminta untuk melaksanakan suatu pekerjaan pada tingkat upah tertentu.
Permintaan tenaga kerja berasal dari sektor perusahaan dan pemerintah. Permintaan tenaga kerja juga dibedakan dengan kebutuhan tenaga kerja, yaitu sejumlah orang yang diminta untuk melaksanakan pekerjaan tertentu tanpa dikaitkan tingkat upah. Upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang, termasuk tunjangan lain-lain, sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja atau jasa yang telah atau akan diberikan, sesuai dengan kesepakatan atau peraturan perundang-undangan. (Sugiharsono 2008: 187)
Kondisi yang banyak terjadi ialah pada tingkat upah tertentu terjadi kelebihan penawaran dibandingkan perminataan tenaga kerja (excess supply). Artinya pada tingkat upah tertentu, orang yang bersedia bekerja lebih banyak dibandingkan dengan orang yang diminta untuk bekerja. Akibatnya, banyak angkatan kerja yang tidak dapat terserap dalam pasar kerja sehingga terjadi pengangguran. Berdasarkan sebabnya pengangguran yang dikelompokkan menjadi :
Pengangguran Struktural
Adalah pengangguran yang disebabkan perubahan di dalam struktur ekonomi. Terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara lowongan dan pekerja yang menganggur. Biasanya terjadi karena ketidaksesuaian antara permintaan tenaga kerja yang dibutuhkan dan kemampuan tenaga kerja.
Pengangguran Siklus atau Konjungtur
Adalah pengangguran sebagai akibat perubahan tingkat kegiatan perekonomian yang terjadi secara berkala. Pengangguran bersiklus berkaitan dengan penurunan seluruh kegiatan ekonomi.
Pengangguran Tehnologi
Pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan dari penggunaan tenaga manusia menjadi mesin (mekanisasi). Ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus berkembang memungkinkan manusia membuat mesin-mesin yang dapat menggantikan tenaga manusia. Mesin memproduksi lebih cepat dan banyak sehingga menghemat waktu dan biaya dan akibatnya penggunaan tenaga manusia menjadi berkurang.
Pengangguran Musiman
Pengangguran secara berkala dalam industri tertentu. Misalkan petani padda saat menunggu hasil panen menjadi pengangguran.
Pengangguran Friksional atau Sementara
Yaitu keadaan ketika pekerja untuk sementara menganggur atau sedang tidak bekerja. Misalnya seseorang yang menganggur karena berhenti dari pekerjaan lama dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan baru.
Pengangguran tidak dapat dihapuskan, melainkan hanya dapat dikurangi. Setiap negara akan berusaha menekan pengangguran seminimal mungkin. Pengangguran dapat menimbulkan kerugian bagi si penganggur itu sendiri atau bagi perekonomian negara. Dampak pengangguran antara lain :
Turunnya tingkat kemakmuran masyarakat. Seseorang yang menganggur tidak punya sumber pengahasilan. Akibatnya, tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara maksimal.
Jika banyak orang yang menganggur berarti banyak orang yang tidak mempunyai pendapatan sehingga permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa sedikit. Ini berarti tidak ada dorongan bagi sektor produksi untuk meningkatkan kegiatannya dan membuat perekonomian lambat.
Kemampuan pemerintah untuk menarik pajak sedikit karena pendapatan masyarakat yang rendah.
Dapat meningkatkan masalah sosial dan politik, misal dengan banyak penduduk miskin maka timbul kejahatan dan kegiatan ekonomi ilegal seperti hadirnya barang selundupan atau ilegal.
Tekanan mental bagi si penganggur karena merasa tidak berguna serta mendapat pandangan negatif masyarakat.
(Fattah 2008 : 307)
Kebijakan Pemerintah Dalam Angkatan kerja
Pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah angkatan kerja dengan melalui kebijakan-kebijakan seperti :
Membuka kesempatan kerja seluas-luasnya. Kesempatan kerja adalah lowongan pekerjaan yang bdapat diisi oleh pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan. Termasuk dalam lowongan kerja adalah lapangan kerja yang sudah terisi dan masih lowong.
Pemerintah banyak menjalankan program-program yang bersifat padat karya (banyak menggunakan tenaga kerja). Akan tetapi program-program hanya bersifat sementara untuk membantu penduduk yang terkena PHK.
Meningkatkan taraf hidup penduduk dengan mengadakan penyesuaian Upah Minimum Regional (UMR) dan kebutuhan hidup minimum (KHM).
Meningkatkan kemampuan serta keterampilan angkatan kerja dengan banyak mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) atau diklat kerja. Termasuk juga menggiatkan perusahaan-perusahaan untuk mau menerima pekerja magang.
Mengeluarkan berbagai peraturan atau perundang-undangan yang diharapkan dapat memenuhi kepentingan semua pihak yang berkaitan, baik buruh maupun pengusaha. (IPS Terpadu untuk SMP 179 : 2007)
KERANGKA BERPIKIR
Guru dan siswa merupakan dua faktor penting dalam setiap penyelenggaraan di kelas. Guru sebagai unsur utama dalam proses pembelajaran, membutuhkan keterlibatan siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran. Maka guru harus memiliki strategi dalam pelaksanaannya sebagai tindakan nyata untuk melaksanakan pembelajaran. Oleh sebab itu diperlukan oleh guru merancang model pembelajaran yang efektif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Guru dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan kondisi siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.
Pendekatan konstektual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produkif dan bermutu. Dalam pembelajaran konstektual intensitas interaksi siswa cukup tinggi karena materi pembelajaran tidak hanya menghafal tetapi mengalami sendiri sedangkan dalam pembelajaran konvensional interaksi intensitasnya rendah karena siswa cenderung sebagai objek pasif dan bergantung pada guru. Dengan demikian hasil merekapun semakin rendah dan hanya anak-anak tertentu yang berhasil.
Berdasar analisis mengenai model pembelajaran dan hasil belajar di atas kiranya cukup kuat untuk menerima kerangka pikir bahwa pembelajaran konstektual lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.










Gb. Kerangka Berpikir
Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah “siswa yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan metode konvensional.



BAB III
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII semester 2 tahun pelajaran 2008/2009 SMP Negeri 1 Mranggen, Kabupaten Demak yang keseluruhan terdiri dari kelas VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF, VIIIG.
Sampel
Pengambilan sampel berdasarkan tekhnik random sampling dan tidak dilakukan secara individu terhadap siswa melainkan kelompok siswa dalam kelas. Hal ini didukung dengan adanya data nilai rata-rata tiap kelas VIII SMP N 1 Mranggen yaitu :
no Kelas Nilai rata-rata tiap kelas
1 A 71,45
2 B 67,725
3 C 73,625
4 D 71,375
5 E 67,625
6 F 69,05
7 G 67,525

Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil dua kelas dari delapan kelas anggota populasi. Dari hasil undian diperoleh kelas VIII E sebagai kelas eksperimen, kelas VIII F sebagai kelas kontrol. Jumlah total sampel dalam penelitian ini 80 orang yang berasal dari kelas VIII E terdiri dari 40 siswa, sedangkan kelas VIII F terdiri dari 40 siswa. Untuk menguji coba instrumen diambil satu kelas yang bukan anggota sampel diatas tetapi masih dalam populasi. Dalam hal ini terambil secara acak kelas VIII G sebagai kelas uji coba.
Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan dua variable yaitu :
Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif contextual teaching learning (CTL) dan metode pembelajaran konvensional.
Variabel terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar ekonomi pada materi pokok angkatan kerja siswa SMP N 1 Mranggen.
Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan pola sebagai berikut :
Kelompok Kondisi awal Perlakuan Tes Akhir
A Q X1, O1 T1
B Q X2, O2 T2

Keterangan :
A : Kelompok eksperimen (dengan metode pembelajaran CTL )
B : Kelompok control ( dengan pembelajaran konvensional )
Q : Nilai tes awal sebelum diberi tindakan/ perlakuan
X1 : Pembelajaran CTL
X2 : Pembelajaran konvensional
O1 = O2 : Lembar observasi tentang pelaksanaan pembelajaran CTL dan pembelajaran konvensional dan lembar observasi
T1 = T2 : Tes pemahaman konsep

Metode pengumpulan data
Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode mencari data tentang hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan lain sebagainya (suharsimi, 2002: 206). Metode ini dilakukan dengan mengambil data-data pendukung penelitian yang meliputi data awal, nilai siswa, dan nama siswa.
Metode Observasi
Observasi adalah suatu tekhnik yang dilakukan dengan cara pemusatan perhatian secara teliti terhadap suatu objek dengan menggunakan suatu alat indra pengamatan langsung (Arikunto, 2002: 133), metode ini digunakan untuk memperoleh keterangan pelaksanaan pembelajaran CTL dan pelaksanaan pembelajaran konvensional yang akan diterapkan. Lembar observasi berisi langkah-langkah pembelajaran yang harus dilakukan guru dan aktivitas siswa CTL dan konvensional. Observer hanya memberikan tanda cek list (√) pada pilihan jawaban yang sesuai dengan hasil pengamatan.

Metode Tes
Metode ini digunakan untuk untuk memperoleh data tentang berapa besar pengaruh penerapan CTL terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Sesuai dengan permasalahan dan variable yang akan diuji dalam penelitian ini instrument yang digunakan adalah jenis tes yakni tes hasil belajar. Bentuk soal yang digunakan dalam tes ini adalah pilihan ganda. Data ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata hasil belajar pada aspek pemahaman konsep antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
Instrumen penelitian
Tes
Tahap persiapan
Dalam tahap persiapan ada beberapa hal yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
Menentukan materi yaitu angkatan kerja, permasalahan angkatan kerja dan kebijakan pemerintah dalam angkatan kerja.
Menentukan tujuan pengadaan tes yaitu untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep
Menentukan waktu yang disediakan dalam tes yaitu dua jam pelajaran (2 X 40 menit )
Menentukan bentuk soal yaitu pilihan ganda
Membuat kisi-kisi soal
Membuat perangkat tes yaitu menulis butir soal dan kunci jawaban.


Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini, instrument tes yang telah dibuat terlebih dahulu diujicobakan dikelompok uji coba, untuk diuji apakah butir-butir soal tersebut memenuhi syarat tes yang baik atau tidak.
Tahap Analisis Soal Uji Coba
Setelah dilakukan uji coba, tiap-tiap butir soal dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan taraf kesukaran.
(1). Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 1998: 160). Suatu instrumen di anggap valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari setiap variabel yang diteliti secara tepat. Validitas dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya soal yang akan digunakan dalam metode pembelajaran CTL.
Untuk mengukur validitas ini dapat dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir angket dengan skor total. Skor butir di anggap sebagai X dan skor total dipandang sebagai Y. Sebuah item butir angket memiliki validitas yang tinggi jika skor pada butir angket memiliki kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi, sehingga untuk mengetahui validitas instrumen digunakan rumus korelasi.
Dalam penelitian ini pengukuran validitas diukur dengan menggunakan bentuk metode statistik. Data yang terkumpul di uji dengan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson (Arikunto, 2006: 170)

Keterangan :
X : skor item yang akan dihitung validitasnya
Y : Skor total dari tiap tes
N : Banyaknya peserta tes
Pada penelitian ini, soal yang di gunakan adalah soal yang valid, sedangkan yang tidak valid dihilangkan. Berdasarkan hasil perhitungan validitas terhadap 40 soal diketahui bahwa semua soal yang diuji cobakan valid. perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 20.
(2). Reliabilitas Instrument
Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik (Arikunto, 2002 : 154). Untuk mengetahui reliabilitas soal tentang efektifitas metode pembelajaran CTL pokok materi angkatan kerja siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mranggen peneliti menggunakan rumus :


dimana Vt = Varian total
dengan


= Reliabilitas instrument
k = banyaknya butir pertanyaan
= jumlah skor total kuadrat
= kuadrat dari jumlah skor
N = jumlah peserta tes
p = banyaknya subjek yang skornya 1
q = banyaknya subjek yang mendapat skor 0
(Arikunto, 2006:187-188).
Jika maka tes dikatakan reliabel. Perhitungan reliabilitas soal uji coba di peroleh, = 0,316 dan hasil perhitungan di peroleh = 0,830. Karena maka tes reliabel, sehingga dapat digunakan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perhitungan reliabilitas dapat dilihat pada lampiran 21.
(3). Daya pembeda soal
Daya beda dicari dengan mengambil skor 50% skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 50 % skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB). Rumus yang digunakan untuk pilihan ganda sebagai berikut:
D=B_A/J_A -B_B/J_B =P_A-P_B
(Arikunto,2002:218-219)
dengan
D = daya pembeda
J_A = Banyaknya peserta kelompok atas
J_B = Banyaknya peserta kelompok bawah
B_A = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar
B_B = Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar
P_A = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
P_B = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Untuk mengetahui soal-soal yang akan dipakai berdasarkan daya pembeda soal, digunakan klasifikasi sebagai berikut :
D ≤ 0,00 (Sangat Jelek)
0,00 < D ≤ 0,20 (jelek) 0,20 < D ≤ 0,40 (cukup) 0,40 < D ≤ ),70 (baik) 0,70 < D ≤1,00 (baik sekali) (Arikunto, 1997:2003) Berdasarkan hasil perhitungan uji coba tes diperoleh bahwa soal nomor 2,6,13,14,16,17 dan 26 memiliki kriteria daya pembeda yang baik. Untuk soal nomer 3,4,8,9,12,19,20,21,25,29,31,33,34,35,36,37 dan 40 memiliki kriteria daya pembeda yang cukup. Untuk soal nomor 1,5,7,10,11,15,18,22,23,26,27,28,30,32,38 dan 39 memiliki kriteria jelek. (lampiran 23) (4). Tingkat kesukaran Rumus yang digunakan yaitu : Keterangan : P = Indeks kesukaran B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes Kriteria : 1,00 < P < 0.,30 Soal sukar 0,30 < P < 0,70 Soal sedang 0,70 < P < 1,00 Soal mudah (Arikunto, 2002 : 208) Berdasarkan hasil perhitungan uji coba tes diperoleh bahwa soal nomor 1,4,7,8,9,11,18,22,23,26,28,29,30,33,34 dan 36 memiliki kriteria tingkat kesukaran yang mudah. Untuk soal nomor 2,3,6,10,12,13,14,15,16,21,24,25,31,32,35,37,39 dan 40 memiliki kriteria sedang. Untuk soal nomer 5,17,19,20,27 dan 38 memiliki kriteria sukar. Penghitungan ada pada lampiran 22. Lembar pengamatan Lembar pengamatan merupakan alat untuk mengumpulkan data berupa sebuah daftar aspek-aspek yang akan diamati. Dalam proses observasi, pengamatan memberikan tanda (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan aspek yang akan diamati. Skor pengamatan untuk siswa bertujuan untuk mengetahui siswa yang aktif selama pembelajaran. Metode Analisis data UJi Normalitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan merupakan data yang berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis statistik untuk pengujian normalitas adalah H_0 : data berdristibusi normal H_1: data tidak berdistribusi normal Untuk menguji normalitas data, pada penelitian ini digunakan uji Chi-kuadrat. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji normalitas data sebagai berikut : Menyusun data dan mencari nilai tertinggi maupun terendah Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas Menghitung rata-rata dan simpangan baku Membuat tabulasi data ke dalam interval kelas Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus Z_1=(x- μ)/δ (Sudjana, 2002:138) Mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal dengan menggunakan table z Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva dengan rumus x^2=∑_(f=1)^k▒((O_i-E_i )^2)/E_i (Sudjana, 2002:273) Keterangan : x^2 = Chi-kuadrat O_i = Frekuensi pengamatan E_i = Frekuensi yang diharapkan Membandingkan harga Chi-kuadrat hitung dengan harga Chi-kuadrat tabel dengan tarif signifikan 5% Menarik kesimpulan, jika x^2hitung < x^2table maka data berdistribusi normal (Sudjana, 2002:273). Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian memiliki kondisi yang sama atau homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai varians yang sama atau tidak. Sedangkan hipotesis statistiknya adalah. H_0 = varians kedua kelompok homogen H_1 = varians kedua kelompok tidak berubah Untuk mengetahui apakah varians dari data sama atau tidak maka dilakukan uji homogenitas mengunakan rumus : F=(varians terbesar)/(varians terkecil) (Sudjana, 2002:250) Kriteria H_0 diterima jika F_hitung< F_(1/2 α) (V_(1.) V_2) dengan α = 5% V_1 = (N_1-1) (dk pembilang) V_2 = (N_2-1)^(dk penyebut) Untuk menguji apakah kedua varians sama atau tidak, hasil yang diperoleh dari rumus diatas dibandingkan dengan Ftabel dengan α = 5 %, dk pembilang = banyaknya data yang variansnya terbesar, dan dk penyebut = banyaknya data yang variansnya terkecil. Jika Fhitung < Ftabel maka varians kedua kelompok sama atau dikatakan Homogen (Sudjana, 2002:303). Uji kesamaan rata-rata Langkah terakhir dari penelitian ini adalah pengujian hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata, uji satu pihak kanan dengan rumus uji t. uji ini selanjutnya digunakan untuk menentukan efektifitas pembelajaran. Hipotesisnya adalah sebagai berikut. H0 : μ_1≤μ_2, artinya rata-rata hasil belajar pada aspek pemahaman konsep ekonomi siswa yang dikenai metode pembelajaran kooperatif Contextual Teaching Learning (CTL) kurang dari atau sama dengan siswa yang dikenai metode pembelajaran konvensional H_1:μ_1>μ_2, artinya rata-rata hasil belajar pada aspek pemahaman konsep ekonomi siswa yang dikenai metode pembelajaran kooperatif Contextual Teaching Learning (CTL) lebih dari siswa yang dikenai metode pembelajaran konvensional
Kriteria pengujian adalah terima H_0 jika thitung < ttabel, dengan derajat kebebasan (dk) = n_1+n_2-2 dan H_0 untuk ketentuan nilai yang lain. Karena varians kedua kelompok tersebut tidak berbeda, maka digunakan rumus: Keterangan : = Rata-rata nilai kelompok eksperimen (X_2 ) ̅ = Rata-rata nilai kelompok control n_1 = Jumlah anggota kelompok eksperimen n_2 = Jumlah anggota kelompok control 〖S_1〗^2 = Varians kelompok eksperimen 〖S_2〗^2 = Varians kelompok control 〖S_2〗^ = Varians gabungan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian ini mengambil tempat di SMP Negeri I Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak sebagai subyek penelitian dengan pertimbangan bahwa peneliti sangat memahami situasi dan kondisi SMP Negeri I Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, sikap dan perilaku siswa serta keberadaan guru-gurunya. SMP Negeri I Mranggen, merupakan salah satu dari 3 SMP Negeri yang berada di Kecamatan Mranggen. Lokasinya dekat dengan jalan raya, tepatnya di Jalan raya Kembangarum Mranggen Demak. Sekolah ini terdiri dari 21 ruang kelas 1 sampai dengan kelas 3. Yang digunakan untuk ruang belajar kelas I – III, sebanyak 21 ruang, 1 ruang untuk kantor guru, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang untuk tenaga Tata Usaha, 1 ruang laboratorium IPA, 1 ruang menjahit dan 1 ruang komputer, serta 1 ruang lagi dipergunakan sebagai ruang perpustakaan. Dalam perkembangannya, meskipun merupakan sekolah yang jauh berada di wilayah kota Semarang, namun dalam segi prestasi digolongkan cukup berhasil. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya piala dan tropi yang terpampang pada sebuah almari kaca di kantor seperti juara I lomba cerdas cermat seKabupaten Demak, juara I lomba matematika dan bahasa inggris seKabupaten Demak dan masih banyak prestasi yang lainnya. Keberhasilan lain dari sekolah ini adalah adanya animo masyarakat yang sangat kuat untuk memasukkan putra-putrinya. Semua ini berkat adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah, orang tua siswa dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Hasil Penelitian Pelaksanaan Pembelajaran CTL dan Konvensional Pembelajaran CTL Dalam pembelajaran CTL terdapat tiga kegiatan yaitu kegiatan 1 (pendahuluan), kegiatan 2 (kegiatan inti), kegiatan 3 (penutup), kegiatan yang dilakukan pada setiap pembelajaran CTL adalah sebagai berikut : Kegiatan 1 Pendahuluan Guru mengkondisikan siswa agar siap menerima materi pelajaran yang akan disampaikan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan pada tiap pertemuan. Pertemuan I adalah mendiskripsikan pengertian tenaga kerja, angkatan kerja dan kesempatan kerja. Pertemuan II bertujuan agar siswa dapat mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja. Pertemuan III adalah mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja serta peran pemerintah dalam upaya penanggulangannya. Guru melakukan apersepsi yaitu mengingatkan materi prasyarat yang mendukung materi yang dipelajari. Apersepsi dilakukan dengan Tanya jawab. Guru menjelaskan pada siswa bahwa metode pembelajaran yang akan digunakan adalam metode pembelajaran tipe CTL. Kegiatan II. Kegiatan inti (pelaksanaan pembelajaran CTL) Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan dipelajari. Guru membentuk kelompok yang terdiri dari 5-6 orang, karena jumlah siswa pada saat pembelajaran kelompok CTL adalah 37 maka ada dua kelompok yang anggotanya 6 orang, kemudian setiap kelompok diberi LDS (Lembar Diskusi Siswa) untuk dikerjakan secara berkelompok, diharapkan dengan mengerjakan secara berkelompok, anggota kelompok yang lebih pandai dapat mengajari anggota kelompoknya yang kurang pandai. Keterangan selengkapnya tentang pembagian kelompok dapat dilihat dilampiran. Guru berkeliling dan membimbing siswa dalam mengerjakan LDS yang berkaitan dengan pengertian angkatan kerja, tenaga kerja dan permasalahan angkatan kerja. Mulanya siswa belum dapat membedakan mana tokoh yang termasuk dalam angkatan kerja, bukan angkatan kerja, dan pengangguran. Kemudian guru memberikan bimbingan dan arahan pada siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang memancing siswa untuk berpikir lebih kreatif sehingga dapat menjawab pertanyaan dalam LDS. Setelah selesai mengerjakan LDS dan mencocokannya secara bersama-sama, kemudian guru memberikan penjelasan mengenai jawaban dan permasalahan dalam soal diskusi. Dilanjutkan dengan diskusi hasil pengamatan siswa Guru mempersilahkan siswa untuk mempresentasikan hasil pengamatannya yang diwakilkan oleh satu orang dari masing-masing kelompok. Kelompok yang mempresentasikan dengan baik adalah kelompok 1, 4, 6, dan 7 karena hasil pengamatan yang dipaparkan menunjukkan bahwa mereka sudah benar-benar paham materi angkatan kerja. Kelompok 2, 3, dan 5 berada dalam tingkat sedang karena hasil pengamatan dalam LDS sudah bisa menunjukkan tingkat pemahaman mereka walaupun dalam anggota kelompok masih terdapat beberapa siswa yang belum paham sepenuhnya. Siswa bertanya pada guru mengenai pengertian angkatan kerja, tenaga kerja dan permasalahan angkatan kerja yang belum sepenuhnya paham. Kemudian guru memberikan jawaban dengan memancing siswa untuk berdiskusi bersama guna mencari jawaban yang sesuai dengan pertanyaan dalam LDS. Kegiatan III. Penutup Guru mempersilahkan kepada siswa untuk menanyakan materi angkatan kerja yang kurang jelas. Guru bersama siswa menyimpulkan materi angkatan kerja yang telah didiskusikan pada pertemuan tersebut, hal ini dilakukan agar materi yang diajarkan benar-benar dipahami siswa. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Konvensional meliputi 3 kegiatan yaitu kegiatan I (pendahuluan), kegiatan 2 (kegiatan inti), dan kegiatan 3 (penutup). Kegiatan yang dilakukan pada Pembelajaran Konvensional adalah sebagai berikut. Kegiatan I. Pendahuluan Guru mengkondisikan siswa agar siap menerima materi pelajaran yang akan disampaikan Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sesuai dengan materi yang disampaikan pada tiap pertemuan. Pertemuan I adalah mendiskripsikan pengertian tenaga kerja, angkatan kerja dan kesempatan kerja. Pertemuan II bertujuan agar siswa dapat mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja. Pertemuan III adalah mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja serta peran pemerintah dalam upaya penanggulangannya. Guru melakukan apersepsi yaitu mengingatkan materi prasyarat yang mendukung materi yang akan dipelajari. Apersepsi dilakukan melalui Tanya jawab. Kegiatan II. Kegiatan Inti Guru menjelaskan kepada siswa materi yang akan dipelajari Ketika guru melakukan pengajaran dengan metode konvensional maka siswa menyimak dengan membaca buku pegangan, dan guru sambil sesekali memberikan selingan Tanya jawab yang materinya bisa diambil dari LKS atau buku pegangan. Guru memberikan pertanyaan pada siswa mengenai materi angkatan kerja yang berbeda antara siswa satu dengan lainnya. Guru memberikan kesempatan untuk siswa mengeluarkan tanggapan terhadap pelajaran yang kurang jelas. Guru mengamati tingkat keaktifan siswa dengan melihat banyaknya siswa yang bertanya serta berani menjawab pertanyaan yang diberikan dan memberikan penguatan kepada siswa yang benar menjawab pertanyaan yang diberikan mengenai materi angkatan kerja. Penguatan dilakukan dengan mengajak siswa untuk bertepuk tangan, guru juga memberikan semangat kepada siswa yang belum berhasil menjawab dengan baik. Tindakan ini memotivasi siswa untuk mencoba kembali menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Kegiatan III. Penutup Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi angkatan kerja yang kurang jelas. Guru bersama siswa menyimpulkan materi pada pertemuan tersebut. Hal ini dilakukan agar materi yang telah diajarkan benar-benar dipahami siswa. Analisa Data Akhir Setelah proses pembelajaran selesai baik untuk kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional maupun kelas eksperimen dengan menggunakan metode pembelajaran CTL dilanjutkan analisis data akhir. Uji Normalitas Berdasarkan hasil perhitungan, untuk kelompok eksperimen 74,08 dan hitung = 4,5793 dengan α=5% dan dk = 6-3=3 dan daftar chi kuadrat didapat tabel =7,81. Aturan untuk menguji adalah tolak Ho jika karena maka kelompok eksperimen berdistribusi normal. Kelompok kontrol diperoleh 66,55 dan hitung = 6,778 dengan α=5% dan dk = 6-3=3 dan daftar chi kuadrat didapat tabel =7,81. Aturan untuk menguji adalah tolak Ho jika karena maka kelompok kontrol juga berdistribusi normal. perhitungan selengkapnya pada lampiran 24 halaman 111 dan lampiran 25 halaman 112. Uji Homogenitas Setelah dilakukan perhitungan didapat varians terbesar 84,9718 dan varians terkecil 54,0199 sehingga Fhitung =1,5730 dan dengan α=5% dan dk=(39,39) didapat Ftabel =1,89 Karena Fhitung < Ftabel maka tidak ada varians antara kedua kelompok tersebut. Perhitungan selengkapnya pada lampiran 26 halaman 113. Uji Hipotesis Perbedaan Dua Rata-Rata Uji t ini bertujuan untuk menganalisis data hasil tes. Rumus menurut Arikunto (2006 : 311) adalah sebagai berikut Keterangan: t : t-tes M : mean atau rerata kelompok eksperimen M : mean atau rerata kelompok perbandingan : jumlah kuadrat deviasi kelompok eksperimen : jumlah kuadrat deviasi kelompok perbandingan Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh thitung = 4,037 dan dengan α = 5% dan dk = 78 diperoleh ttabel = 1,99. Karena thitung> ttabel maka Ho ditolak, artinya rata-rata skor tes pemahaman konsep kelas CTL lebih tinggi dari pada kelas konvensional atau ceramah. Perhitungan selengkapnya pada lampiran 27 halaman 114.
Hasil Pengamatan Aktivitas Guru dan Siswa dalam Metode Pembelajaran CTL dan Konvensional.
Pengamatan dilakukan menggunakan lembar pengamatan sebagai alat observasi yang telah disusun sebelumnya dalam instrument dan disesuaikan dengan aktifitas guru dan siswa dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Berdasarkan hasil dari pengamatan aktivitas guru diperoleh data bahwa pembelajaran yang dilakukan di kelas eksperimen mencapai 66%, hal ini menunjukan bahwa kegiatan proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran CTL baik.
Data pengamatan aktivitas siswa diperoleh bahwa aktivitas siswa pada kelompok eksperimen mencapai 77,7%, hal ini menunjukan bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran CTL sangat baik. Sedangkan rata-rata aktivitas siswa pada kelompok kontrol mencapai 61,1% hal ini menunjukan bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran konvensional baik.


Berdasarkan hasil analisis akhir rata-rata dari kedua kelas tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 1
Rata-rata hasil postest dari kedua kelas
No Statistik Diskriptif Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
1 Banyaknya siswa 40 40
2 Skor tertinggi 87 83
3 Skor terendah 55 49
4 Rentan 6 6
5
74,08 66,55
6 s² 54,0199 84,9718
Sumber: data primer yang diolah

Berdasarkan kriteria ketuntasan mata pelajaran (KKM) yang ditargetkan yaitu nilai mata pelajaran ekonomi minimal harus mencapai 6,50 dan untuk materi pembentukan angkatan kerja tercapai untuk kelas eksperimen yaitu 74,08 sedangkan untuk kelas kontrol (konvensional) yaitu mencapai 66,55. Berdasarkan hasil pengamatan aktivitas siswa diperoleh :
Gambar 1
Rata-rata keaktifan siswa dalam pembelajaran

Sumber : data primer yang diolah
Siswa yang dikenai metode pembelajaran kooperatif CTL rata-rata keaktifan mencapai 77,7%, sedangkan siswa yang dikenai metode pembelajaran konvensional rata-rata keaktifannya hanya mencapai 61,1%. Jadi rata-rata keaktifannya siswa pada kelas CTL lebih baik dari rata-rata keaktifan siswa pada kelas konvensional
Pembahasan
Guru dan siswa merupakan dua faktor penting dalam setiap penyelenggaraan proses pembelajaran di kelas. Guru merupakan salah satu unsur dalam pembelajaran yang membutuhkan keterlibatan siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu guru perlu merancang metode pembelajaran yang efektif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Salah satu tolok ukur suatu proses pembelajaran berkualitas atau tidak, dapat diketahui melalui hasil belajar siswa. Jika siswa di sekolah mempunyai hasil belajar yang tinggi, maka dapat diindikasikan proses pembelajaran tersebut berkualitas. Sebaliknya jika hasil belajar siswa rendah maka kemungkinan proses pembelajaran tersebut kurang berkualitas.
CTL merupakan salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Metode pembelajaran ini belum pernah diterapkan di SMP N 1 Mranggen Kabupaten Demak khususnya pada kompetensi dasar ekonomi sehingga perlu dinilai seberapa besar keberhasilan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru dengan metode ini. Pembelajaran dilakukan dalam empat kali pertemuan pada kelas eksperimen dan empat kali pertemuan pada kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, dua kali pertemuan dilaksanakan untuk membahas materi dan belajar kelompok, dua kali pertemuan untuk melaksanakan game dan diskusi.
Awal pertemuan, dikelompok eksperimen terdapat beberapa kendala, antara lain kurangnya kontrol waktu dan keaktifan siswa yang kurang dalam pembelajaran. Namun, pada pertemuan-pertemuan berikutnya kendala tersebut dapat diatasi. Dari hasil pengamatan, pembelajaran pada kelompok eksperimen berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari peran aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran mulai meningkat, baik berupa diskusi kelompok maupun siswa yang sudah berani melontarkan pertanyaan yang berkaitan dengan materi. Kerjasama antar anggota kelompok berjalan dengan baik. Kelompok terdiri dari lima sampai enam anggota kelompok yang terbagi secara heterogen dan anggota kelompok saling membantu satu dengan lainnya.
Pembelajaran dikelas kontrol pada awal pertemuan juga terdapat beberapa kendala, antara lain siswa belum berani mengutarakan pendapatnya didepan siswa lain, namun pada pertemuan berikutnya siswa sudah mulai berani mengutarakan pendapatnya didepan siswa lain atau didepan kelas. Dari hasil pengamatan, pembelajaran kelompok kontrol kurang begitu efektif karena pembelajaran hanya berjalan satu arah, siswa hanya pasif mendengarkan materi dari guru sehingga pengetahuan yang didapat lebih cepat hilang. Guru telah melaksanakan pembelajaran CTL dan konvensional sesuai dengan langkah-langkah dan prosedur yang tercantum dalam RPP. RPP dibuat dengan mencantumkan langkah-langkah terperinci yang harus dilaksanakan guru dan siswa sehingga guru dapat bertindak secara jelas sesuai dengan RPP. Guru selalu mengevaluasi kekurangan dalam setiap pembelajaran. Hal ini mengakibatkan adanya peningkatan hasil belajar pada siswa.
Dalam konteks penelitian ini, efektifitas dapat dilihat dari indikator hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode CTL lebih besar daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional, rata-rata tingkat ketuntasan belajar siswa yang diajar dengan CTL lebih tinggi daripada yang diajar dengan pendekatan konvensional.
Hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai hasil belajar kelompok eksperimen 74,08 sedangkan untuk kelas kontrol (konvensional) 66,55. Dari hasil uji t diperoleh thitung = 4,037 dan dengan α = 5% dan dk = 78 diperoleh ttabel = 1,99 yang berarti thitung> ttabel maka Ho ditolak, artinya rata-rata skor tes pemahaman konsep kelas CTL lebih tinggi dari pada kelas konvensional atau ceramah. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan konstektual tersebut memberikan kontribusi terhadap ketuntasan siswa dalam belajar. Hal ini juga diperkuat dengan rata-rata keaktifan siswa dalam pembelajaran CTL mencapai 71,7% dan pembelajaran konvensional mencapai 61,1% yang keduanya masuk dalam kategori baik.
Sesuai dengan karakteristiknya, metode pembelajaran CTL mengedepankan keaktifan siswa dengan menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas. Metode pembelajaran CTL merupakan suatu metode yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi dunia nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005:109).
Metode pembelajaran CTL mempunyai tujuh komponen belajar efektif meliputi : 1) Konstruktivisme. Siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan di dalam proses pembelajaran dengan cara bekerja mandiri, menemukan dan mengkonstruksi pengetahuan dan informasi barunya mengenai angkatan kerja. 2) Bertanya (Quetioning). Merupakan suatu alat yang digunakan oleh orang yang bertanya untuk memulai dan mempertahankan interaksi dengan orang lain. Disini siswa dituntut untuk mencari informasi dengan wawancara dengan orang di sekitar mereka mengenai angkatan kerja dan permasalahan angkatan kerja serta bertanya dengan sesama teman selama proses pembelajaran untuk memecahkan masalah dan mengamati guna mengklarifikasi dan meyakinkan informasi tentang angkatan kerja. 3) Menemukan (Inquiry). Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa didapat bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan ini diawali dengan merumuskan masalah apakah fungsi dan peran angkatan kerja kegiatan ekonomi. Setelah itu siswa mengumpulkan data melalui kegiatan observasi orang di sekitar mereka sebagai objek pengamatan. 4). Masyarakat belajar (learning community). Pelaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat. Setiap orang bisa menjadi sumber belajar dan berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. 5). Pemodelan. Guru bukanlah satu-satunya model dalam proses pembelajaran, akan tetapi siswapun merupakan model dalam pembelajaran. Hal ini tampak ketika siswa menyampaikan kepada siswa yang lain untuk menunjukkan dan menjelaskan tentang angkatan kerja dan permasalahannya. 6). Refleksi (reflection). Refleksi adalah cara berfikir apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Contohnya siswa mencatat aktifitas yang telah dipelajari dan diakhir pelajaran guru menghubungkan aktifitas yang telah dilakukan dengan pengetahuan sebelumnya. 7). Penilaian autentik. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar, yakni melalui penilaian belajar. Apabila data yang digunakan guru mengidentifikasikan bahwa siswa yang mengalami kemacetan belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar.
Ketujuh komponen dalam pendekatan konstektual tersebut secara umum mampu meningkatkan aktifitas siswa. Keaktifan siswa tersebut yang memberikan pengaruh yang lebih nyata terhadap hasil belajar yang diperoleh. Pembelajaran yang diterapkan lebih mengembangkan sistem diskusi antara siswa, sehingga secara langsung mampu mengembangkan kerja sama antara siswa. Bagi siswa yang merasa mampu akan memberikan masukan yang berarti bagi teman kelompoknya pada saat melakukan diskusi maupun mengemukakan pendapat. Kondisi ini dapat berdampak positip terhadap hasil belajar siswa, sebab siswa akan lebih memahami materi secara mendalam.















BAB 5
PENUTUP
SIMPULAN
Berdasarkan penelitian dan hasil analisis dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
Penggunaan metode pembelajaran CTL kepada siswa SMP N 1 Manggen pada materi pokok angkatan kerja lebih efektif daripada menggunakan metode pembelajaran konvensional
Hasil belajar pada aspek pemahaman materi pokok angkatan kerja yang dikenai metode pembelajaran kooperatif CTL lebih efektif dari pada siswa yang dikenai pembelajaran konvensional.
Keaktifan siswa yang dikenai metode pembelajaran kooperatif Contextual Teacher Learning (CTL) lebih baik daripada siswa yang dikenai pembelajaran konvensional.
SARAN
Diharapkan metode pembelajaran kooperatif Contextual Teacher Learning (CTL) sering dipakai dalam pembelajaran karena metode pembelajaran ini efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Pembelajaran kooperatif CTL perlu diterapkan dan dikembangkan pada materi lain agar siswa lebih menguasai materi.


DAFTAR PUSTAKA
Anni, Catharina Tri, dkk . 2007 . Psikologi Belajar . Semarang : IKIP Semarang
Press.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Fattah, Sanusi dkk. IPS Terpadu Kelas VIII. Jakarta : CC Teguh Karya.
Handoko, T. Hani. 2005. Dasar-Dasar Manajemen. Yogyakarta
Johnson, Elaine B.2002. Contextual Teaching and learning. Terjemahan oleh Ibnu Setiawan. 2007. Bandung : Mizan Media Utama.
Kasmadi. Hartono. 1991. Tekhnik Mengajar. Semarang: IKIP Press Semarang.
Nana Sudjana, R. Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru
Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rhinbeka Cipta
Sanjaya, wina.2008.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Prenada Media.
Sri martini. 2007. Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning) Pada Siswa SMA N 1 Tayu Kelas X Semester II Tahun Ajaran 2007/2008. Jurusan Kimia FMIPA UNNES semarang.
S, Nasution. 2000. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana. 1999. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Suyanto, Nurhadi. 2007. IPS Ekonomi untuk SMP Kelas VIII, Jakarta : Erlangga
Sugiharsono dkk. IPS Terpadu Kelas VIII edisi 4. Departemen Pendidikan Nasional.
Trianto.2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Hasil Pustaka.

2 comments:

  1. Are you monetizing your premium shared links?
    Did you know that ShareCash will pay you an average of $0.50 per link unlock?

    ReplyDelete
  2. BlueHost is definitely the best web-hosting provider for any hosting plans you might require.

    ReplyDelete