clicksor

Clicksor

Sunday, January 9, 2011

Contoh Proposal Skripsi

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13321246/proposalACC.doc.html

I. JUDUL SKRIPSI
“EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL) DALAM MATERI POKOK ANGKATAN KERJA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMP N I MRANGGEN KELAS VIII SEMESTER 2 TAHUN AJARAN 2008/2009.
II. Latar Belakang Masalah
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat pesat menyebabkan munculnya berbagai gejala sosial dan perubahan dalam masyarakat, hal ini memerlukan kesiapan diri dari sumberdaya manusia. Guna mengantisipasinya diperlukan program pendidikan yang berkualitas, yang menyediakan berbagai pengetahuan, dan keterampilan, sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh, mandiri, tanggung jawab dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam pembangunan suatu bangsa. Perkembangan IPTEK yang pesat menuntut suatu bangsa untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat bersaing dengan bangsa lain di dunia. Salah satu upaya yang harus dilakukan yaitu dengan mengadakan perbaikan dalam proses belajar mengajar. Upaya peningkatan hasil-hasil pendidikan dapat berupa perubahan paradigma manajemen pendidikan di sekolah, pemberlakuan kurikulum 2004 atau KBK atau KTSP disemua jenjang pendidikan di sekolah dan penerapan temuan pendekatan pembelajaran oleh para ahli pendidikan (Supartono, 2006 : 3).
Upaya-upaya tersebut menjadi tanggung jawab semua tenaga kependidikan, salah satu upaya yang dapat dilaksanakan adalah penggunaan pendekatan pembelajaran dan media pengajaran yang diharapkan mampu mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.
Kurikulum yang diberlakukan sekarang menyatakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir saja, akan tetapi proses pembelajarannya juga diperhatikan. Dalam penerapan kurikulum KTSP ini guru dituntut untuk dapat menyampaikan materi tidak hanya dalam bentuk hafalan-hafalan melainkan harus menanamkan pemahaman yang mendalam kepada siswa yang pada akhirnya siswa dapat memahami dan mengembangkan apa yang telah diperolehnya. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning).
Dalam metode CTL proses pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata yang dialami oleh siswa. Pembelajarannya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan. Pembelajaran dengan metode CTL menekankan pada keaktifan dari siswa, guru hanya sebagai fasilitator dan motivator sedangkan siswa mengkonstruksi sendiri pengalaman yang diperoleh dalam bentuk makalah, sehingga dari pengalaman ini pemahaman siswa terhadap materi akan lebih mengena. .
Pembelajaran dengan metode CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Trianto, 2007 : 103).

Pembelajaran yang pada umumnya dilaksanakan oleh guru lebih banyak menekankan pada aspek pengetahuan dan pemahaman. Sedangkan aspek aplikasi, analisis, sintesis bahkan evaluasi hanya sebagian kecil dari pembelajaran yang dilakukan. Guru selama ini lebih banyak memberi ceramah dan latihan mengerjakan soal dengan cepat tanpa memahami konsep secara mendalam.
Berdasarkan observasi awal yang telah penulis lakukan melalui wawancara dengan guru ekonomi SMP N I MRANGGEN proses pembelajaran IPS yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah dan dengan itu diketahui bahwa penguasaan materi pada siswa masih rendah. Hal ini diperkuat dengan adanya data bahwa masih terdapat sekitar 67 % dari siswa dalam kelas (VIII E) yang nilainya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan standar ketuntasan 65.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis ingin meneliti penggunaan metode CTL untuk meningkatkan aktivitas dan hasis belajar kimia dengan judul “ Efektifitas Penggunaan Metode Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) Dalam Materi Pokok Angkatan Kerja Terhadap Hasil Belajar Siswa SMP N I Mranggen Kelas VIII Semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009”.
III. RUMUSAN MASALAH
Sehubungan dengan penggunaan CTL sebagai metode dalam pembelajaran di sekolah, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana efektifitas penggunaan metode pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dalam materi pokok angkatan kerja terhadap hasil belajar siswa SMP N I Mranggen Kelas VIII Semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009 ?


IV. TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui efektifitas penggunaan metode pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dalam materi pokok angkatan kerja terhadap hasil belajar siswa SMP N I Mranggen Kelas VIII Semester 2 Tahun Ajaran 2008/2009.
V. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, antara lain :
1. Bagi siswa, dapat meningkatkan tingkat pemahaman materi dan hasil belajar siswa
2. Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan dan informasi dalam memilih pendekatan belajar yang efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
3. Bagi sekolah memberikan perbaikan kondisi pembelajaran, sehingga dapat membantu menciptakan panduan pembelajaran bagi mata pelajaran lain dan bahan pertimbangan dalam membuat keputusan penggunaan pendekatan yang akan diterapkan.
VI. LANDASAN TEORI
A. Efektifitas
Efektifitas adalah sebuah pengertian yang menggambarkan perbandingan terbaik antara suatu hasil dalam realitas dengan hasil yang ditargetkan (Kasmadi, Hartono. 1991:9). Secara umum, keefektifan dihbungkan dengan pencapaian sasaran yang telah ditentukan atau perbandingan hasil nyata dengan hasil ideal. Keefektifan menunjuk kepada hasil evaluasi terhadap proses yang menghasilkan keluaran yang dapat diamati. Dengan demikian keefektifan dapat dikatakan sebagai suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh tindakan atau usaha yang mendatangkan hasil guna dan mencapai tujuan.
”Suatu pekerjaan dapat dikatakan efektif ialah kalau pekerjaan itu memberi hasil yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan semula, dengan kata lain kalau pekerjaan itu sudah mampu merealisasi tujuan organisasi dalam aspek yang dikerjakan itu.(Pidarta, 1992:12)”
Suatau usaha dikatakan efektif apabila usaha itu mencapai tujuannya sedangkan efektifitas adalah kemampuan untuk melakukan hal yang tepat atau untuk menyesuaikan sesuatu dengan baik. (Handoko,1995:7)
B. Kajian tentang belajar
1. Pengertian Belajar
Morgan dalam Anni (2007:2) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan dan pengalaman. Sedangkan menurut Gagne dalam Anni (2007:2) belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan seseorang yang dicapai melalui upaya yang dilakukan dan perubahan itu bukan diperoleh secara langsung dari proses pertumbuhan dirinya secara alamiah. Menurut Hilgard dalam Nasution (2000:35) belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam lingkungan alamiah) yang dibedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor yang tidak termasuk latihan. Dari ketiga pendapat tersebut belajar merupakan tingkah laku yang diperoleh melalui upaya secara sengaja. Perolehan belajar tidak hanya berupa pengetahuan saja melainkan bermacam-macam antara lain : fakta, konsep, keterampilan, sikap, nilai atau norma dan kemampuan lain.
Skinner dalam Anni (2007:20) belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku. Perilaku dalam belajar memilki arti luas, yang sifatnya bisa berwujud perilaku yang tidak tampak (innert behaviour) atau perilaku yang tampak (overt behaviour). Sebagai suatu proses, dalam kegiatan belajar dibutuhkan waktu sampai mencapai hasil belajar, dan hasil belajar itu berupa perilaku yang lebih sempurna dibandingkan dengan perilaku sebelum melakukan kegiatan belajar.
Belajar bukan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan dalam diri seseorang. Oleh sebab itu belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Apabila kita berbicara mengenai belajar maka kita berbicara bagaimana mengubah tingkah laku seseorang.(Sudjana:28)
Belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 :3).
Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya (Darsono 2000 : 64),
Jadi belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang dialami seseorang yang disebabkan oleh pengalaman yang berupa peningkatan kinerja, pembenahan pemikiran atau penemuan konsep-konsep dan cara-cara yang baru yang meliputi ranah kognitif, psikomotorik dan afektif.
2. Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana (2001: 21), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
Dalam proses pembelajaran, hasil belajar merupakan hal yang penting karena dapat menjadi tolak ukur untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajar dan sejauh mana sistem pembelajaran yang diberikan guru berhasil atau tidak. Menurut Nana Sudjana (1989:50), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki atau dikuasai siswa setelah menempuh proses belajar. Suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus dapat tercapai.
Dari pendapat-pendapat tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa hasil belajar adalah sesuatu yang nampak pada diri siswa setelah melakukan suatu kegiatan.
Menurut Bloom dalam Sudjana (2002 :22) hasil belajar dibedakan menjadi 3 ranah yaitu :
a. Ranah kognitif
Pada ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
b. Ranah afektif
Pada ranah ini berkenaan dengan sikap dan nilai.Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial. Sikap afektif dapat terlihat dalam hal :
1. Kemauannya untuk menerima pelajaran dari guru-guru
2. Perhatiannya terhadap apa yang dijelaskan oleh guru
3. Keinginannya untuk mendengarkan dan mencatat uraian guru
4. Penghargaannya terhadap guru itu sendiri
5. Hasratnya untuk bertanya kepada guru.
6. Kemauannya mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut
7. Kemauannya untuk menerapkan hasil pelajaran dalam praktek kehidupannya sesuai dengan tujuan dan isi yang terdapat dalam mata pelajaran
8. Senang terhadap guru dan mata pelajaran yang diberikannya.
c. Ranah psikomotorik
Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotorik dapat di lihat berikut :
1. Segera memasuki kelas pada waktu guru datang dan duduk paling depan dengan mempersiapkan kebutuhan belajar
2. Mencatat bahan pelajaran dengan baik dan sistematis
3. Sopan, ramah, dan hormat kepada guru pada saat guru menjelaskan pelajaran
4. Bertanya kepada guru mengenai bahan pelajaran yang belum jelas
5. Membentuk kelompok untuk berdiskusi tentang materi pelajaran
6. Melakukan latihan dalam memecahkan masalah berdasarkan konsep bahan yang diperolehnya atau menggunakannya dalam praktek kehidupannya.
7. Mau berkomunikasi dengan guru, dan bertanya atau meminta saran bagaimana mempelajari mata pelajaran yang akan diajarkannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
a. Faktor internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri siswa. Faktor internal meliputi faktor biologis (usia, kematangan, kesehatan ) dan faktor psikologis (kelelahan, suasana hati, motivasi, minat, dan kebiasaan belajar).
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa yang meliputi manusia (keluarga, sekolah, masyarakat) dan non-manusia (udara, suara, bau-bauan) (Arikunto, 1980 :21)
Seperti yang telah dijelaskan dimuka bahwa belajar adalah usaha untuk memperoleh pengetahuan sehingga proses belajar mengajar akan mengakibatkan terjadinya proses tingkah laku yang dapat membandingkan seseorang sebelum dan sesudah mengalami peristiwa belajar.
C. PEMBELAJARAN SEBAGAI SUATU SISTEM
Pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh pendidik untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, ketrampilan dan sikap.
Pembelajaran adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dimana pendidik dan peserta didik melakukan interaksi edukatif antara satu dengan yang lainnya.
Pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa antar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Dalam proses belajar bersifat internal dan unik dalam diri individu siswa sedang proses pembelajaran bersifat eksternal yang sengaja direncanakan dan bersifat rekayasa perilaku..
Ciri-ciri pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
2. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar.
3. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan menantang siswa
4. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan menarik.
5. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan menyenangkan bagi siswa.
6. Pembelajaran dapat membuat siswa siap menerima pelajaran, baik fisik maupun psikologis.
Karena pembelajaran dilakukan secara sadar dan disengaja, maka pembelajaran pasti mempunyai tujuan. Tujuan pembelajaran adalah membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman iu tingkah laku siswa bertambah baik, secara kualitas maupun kuantitas. Tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.
Kegiatan pembelajaran meliputi belajar dan mengajar yang keduanya saling berhubungan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan siswa untuk membangun makna atau pemahaman siswa terhadap suatu objek atau peristiwa. Sedangkan kegiatan mengajar merupakan upaya menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi dan tanggung jawab pada siswa untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan.
Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi. Suatu proses pembalajaran dapat dikatakan efektif bila seluruh komponen mendukung yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran yang saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan.
Dalam proses belajar mengajar ekonomi juga mengandung komponen-komponen yang hendak dicapai yaitu :
1. Tujuan
Dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi, tujuannya adalah mengenalkan fakta tentang peristiwa dan memecahkan permasalahan ekonomi.
2. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran ekonomi disusun secara sistematis, komprehensif dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Kegiatan Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, terjadi interaksi antara guru dan siswa. Dimana interaksi tersebut siswa dituntut lebih aktif, sedangkan guru hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator.
4. Metode
Dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi, metode diperlukan oleh seorang guru dan penggunaannya bervariasi disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan pada siswa.
5. Alat
Pada kegiatan belajar mengajar ekonomi menggunakan alat untuk mempermudah mencapai tujuan. Alat yang digunakan bervariasi yaitu media belajar ataupun berupa motivasi dan perintah yang dapat membantu siswa dalam proses belajar mengajar.
6. Sumber Pelajaran
Sumber belajar merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi siswa. Sumber belajar dalam kegiatan belajar mengajar ekonomi antara lain dengan menggunakan buku paket yang ada di sekolah maupun buku penunjang lainnya serta Lembar Kerja Siswa (LKS).
Penentuan strategi dan juga metode mengajar perlu diambil jauh sebelum pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Untuk itu perlu diperhatikan beberapa faktor penentu dalam penyusunan strategi mengajar, seperti :
a) Tujuan yang hendak dicapai
b) Keadaan dan kemampuan siswa
c) Keadaan dan kemampuan guru
d) Lingkungan masyarakat dan sekolah serta
e) sistem lain yang bersifat khusus
Dilihat sebagai suatu sistem, masing-masing faktor ini merupakan komponen yang saling berhubungan dalam keseluruhan proses belajar mengajar.
Pembelajaran mata pelajaran ekonomi sebagai suatu sistem adalah keseluruhan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran akan berhasil jika ada Feed Back atau timbal balik yang baik antara guru dengan peserta didik atau siswa. Seorang guru harus berusaha sebaik mungkin agar siswa dapat membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir dan memahami apa yang dipelajari. Sehingga akan membentuk suatu perubahan pada diri siswa sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.
Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan pendidik dengan tujuan untuk merubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik. Dalam pembelajaran ekonomi yang tidak berbeda dengan pembelajaran pada umumnya, yang juga menitik beratkan pada peserta didik/siswa, tujuan dan prosedur kerja untuk mencapai tujuan.
Maka peran guru dalam memberi motivasi kepada siswa agar siswa mempunyai kemauan belajar yang tinggi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru ekonomi harus bisa menyampaikan suatu materi kepada siswa secara lengkap dan dapat menarik siswa agar tidak jenuh dengan pembelajaran
D. Metode Pembelajaran CTL (Contextual Teaching Learning)
1. Pengertian Pembelajaran CTL
Pembelajaran CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Trianto, 2007 : 103).
Johnson (2007 : 67), mendefinisikan sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka.
Dari konsep tersebut ada 3 hal yang terlihat dari metode CTL yaitu:
a. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi yaitu proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung dan tidak mengharapkan siswa hanya menerima tetapi mencari dan menemukan sendiri.
b. CTL mendorong agar siswa menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata, sehingga materi yang dipelajari tidak akan mudah dilupakan.
c. CTL mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan nyata.

2. Komponen CTL
Pembelajaran dengan metode CTL mempunyai tujuh komponen utama yaitu : Konstruktivisme (Constuctivism), bertanya (Questioning), Menemukan (Inquiri), Masyarakat belajar (Learning Society), pemodelan (Modelling), Refleksi (Reflection), Penilaian yang sesungguhnya (Authentic Assesment) (Trianto, 2007:121).
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan konstektual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Dengan dasar itu pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan “menerima” pengetahuan.
2. Bertanya
Dalam sebuah pembelajaran, kegiatan bertanya berguna untuk :
1. Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis.
2. Mengecek pemahaman siswa.
3. Membangkitkan respon kepada siswa.
4. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa.
5. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendakinya.
6. Membangkitkan lebih banyak pertanyaan dari siswa
7. Menyegarkan kembali pengetahuan siswa. (Trianto, 2007 : 110)

3. Menemukan
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Siklus inkuiri terdiri dari :
a. Observasi
b. Bertanya
c. Mengajukan Dugaan
d. Pengumpulan Data
e. Penyimpulan
f. Masyarakat Belajar

4. Masyarakat belajar
Menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat.
5. Pemodelan
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang biasa ditiru oleh siswanya. Dalam pembelajaran konstektual, guru bukan satu-satunya model. Permodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang bisa ditunjukkan untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahuinya.
6. Refleksi
Refleksi adalah cara berfikir apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu (Trianto, 2007:113). Realisasi dari refleksi yaitu : pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, Catatan atau jurnal di buku siswa, Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, Diskusi, Hasil karya.
7. Penilaian autentik
Adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Ini untuk menghindari adanya kemacetan dalam belajar dengan mengambil tindakan secara cepat bila terjadi masalah.


3. Prinsip Ilmiah CTL
CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu sistem yang memungkinkan para siswa melihat makna didalamnya, dan mengingat materi akademik. Tiga prinsip ilmiah dalam CTL :
a) Prinsip kesaling-bergantungan dan CTL
Prinsip kesaling-bergantungan ada di dalam segalanya sehingga memungkinkan para siswa utnuk membuat hubungan yang bermakna. Pemikiran yang kritis dan kreatif menjadi mungkin. Kedua proses itu terlibat dalam mengidentifikasi hubungan yang akan menghasilkan pemahaman-pemahaman baru. Lebih jauh lagi, prinsip kesaling-bergantungan memungkinkan kita memasangkan tujuan yang jelas pada standar akademik yang tinggi dan juga mendukung kerja sama.
b) Prinsip diferensiasi
CTL menggambarkan cinta alam semesta terhadap keragaman. Mengingat para siswa tidak sama, system CTL memberi mereka perhatian individual yang lebih panjang dan terkonsentrasi. Para guru CTL berfokus pada seorang siswa secara keseluruhan. Mereka mengerti kehidupan rumah si siswa, adatnya, kondisi ekonominya, gaya belajarnya, dan minatnya. Mereka menanggapi kebutuhan-kebutuhan khusus dan aspirasi setiap siswa. Selain memungkinkan adanya keunikan, keragaman, dan kretifitas, prinsip diferensiasi juga mengajak pada kerja sama.
c) Prinsip pengaturan diri
Menyatakan bahwa setiap entitas terpisah di alam semesta memiliki sebuah potensi bawaan, suatu kewaspadaan atau kesadaran yang menjadikannya sangat berbeda. Karena prinsip pengaturan diri, segala sesuatunya diatur oleh diri sendiri dan disadari oleh diri sendiri sehingga suatu kenyataan di dalamnya membuat mampu mempertahankan identitas yang berbeda. Prinsip pengaturan diri meminta para pendidik untuk mendorong setiap siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya.
VII. Materi Pokok Angkatan kerja
Salah satu sumber daya yang penting dalam kegiatan produksi adalah sumber daya manusia (penduduk). Akan tetapi, tidak semua penduduk dapat secara produktif terlibat di dalam pasar kerja. Hal ini karena ada penduduk yang memang berada di luar usia kerja dan ada sebagian penduduk usia kerja namun belum atau tidak terlibat di pasar kerja.
Konsep Angkatan kerja

Angkatan kerja Permasalahan Angkatan kerja

Kebijakan Pemerintah Dalam Angkatan kerja
Gb. Konsep pembelajaran angkatan kerja

1. Konsep Angkatan kerja
Penduduk dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu penduduk usia kerja (15 tahun), dan penduduk bukan usia kerja (dibawah usia 15 tahun). Penduduk usia kerja sering disebut tenaga kerja (man power), meskipun sebenarnya pengertian :
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Tenaga kerja lebih mengarah kepada penduduk usia kerja yang mampu melakukan suatu pekerjaan. Menurut UU No. 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Tenaga kerja dapat juga diartikan sebagai penduduk yang berada dalam batas usia kerja. Tenaga kerja disebut juga golongan produktif.(Fattah 2008: 305) Jadi tidak semua yang masuk dalam usia kerja akan memasuki dan terlibat pasar kerja.
Pasar kerja adalah seluruh aktifitas dari pelaku-pelaku untuk mempertemukan pencari kerja dengan lowongan kerja, atau proses terjadinya penempatan dan atau hubungan kerja melalui penyediaan dan penempatan tenaga kerja. Penduduk usia kerja yang tidak masuk ke dalam pasar kerja disebut dengan bukan angkatan kerja yaitu kelompok penduduk usia kerja yang melakukan kegiatan sekolah, mengurus rumah tangga, dan orang yang menerima pendapatan meskipun tidak bekerja, yaitu pensiunan, penerima hasil sewa rumah, penerima bunga simpanan atau orang yang tidak mampu bekerja karena berusia lanjut atau cacat.
Dalam angkatan kerja istilah bekerja adalah melakukan pekerjaan mengahasilkan barang dan jasa dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan dan lamanya bekerja paling sedikit lima jam secara terus menerus dalam seminggu yang lalu.
2. Permasalahan Angkatan kerja
Jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar menyebabkan jumlah angkatan kerjanya juga sangat besar. Akibatnya permasalahan angkatan kerja yang dihadapi Indonesia juga sangat banyak dan rumit dibandingkan dengan negara lain dengan penduduknya yang sedikit. Salah satu permasalahan angkatan kerja adalah pengangguran yang berhubungan dengan penawaran tenaga kerja, persediaan tenaga kerja, permintaan tenaga kerja dan kebutuhan tenaga kerja.
Penawaran tenaga kerja adalah jumlah orang yang tersedia dan dapat digunakan untuk melaksanakan pekerjaan pada tingkat upah tertentu. Sedangkan persediaan tenaga kerja pengertiannya sama, hanya persediaan tenaga kerja tidak menggunakan pertimbangan tingkat upah. Adapun permintaan tenaga kerja adalah jumlah orang yang diminta untuk melaksanakan suatu pekerjaan pada tingkat upah tertentu.
Permintaan tenaga kerja berasal dari sektor perusahaan dan pemerintah. Permintaan tenaga kerja juga dibedakan dengan kebutuhan tenaga kerja, yaitu sejumlah orang yang diminta untuk melaksanakan pekerjaan tertentu tanpa dikaitkan tingkat upah. Upah adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang, termasuk tunjangan lain-lain, sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerja atau jasa yang telah atau akan diberikan, sesuai dengan kesepakatan atau peraturan perundang-undangan. (Sugiharsono 2008: 187)
Kondisi yang banyak terjadi ialah pada tingkat upah tertentu terjadi kelebihan penawaran dibandingkan perminataan tenaga kerja (excess supply). Artinya pada tingkat upah tertentu, orang yang bersedia bekerja lebih banyak dibandingkan dengan orang yang diminta untuk bekerja. Akibatnya, banyak angkatan kerja yang tidak dapat terserap dalam pasar kerja sehingga terjadi pengangguran. Berdasarkan sebabnya pengangguran yang dikelompokkan menjadi :
a) Pengangguran Struktural
Adalah pengangguran yang disebabkan perubahan di dalam struktur ekonomi. Terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara lowongan dan pekerja yang menganggur. Biasanya terjadi karena ketidaksesuaian antara permintaan tenaga kerja yang dibutuhkan dan kemampuan tenaga kerja.
b) Pengangguran Siklus atau Konjungtur
Adalah pengangguran sebagai akibat perubahan tingkat kegiatan perekonomian yang terjadi secara berkala. Pengangguran bersiklus berkaitan dengan penurunan seluruh kegiatan ekonomi.
c) Pengangguran Tehnologi
Pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan dari penggunaan tenaga manusia menjadi mesin (mekanisasi). Ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus berkembang memungkinkan manusia membuat mesin-mesin yang dapat menggantikan tenaga manusia. Mesin memproduksi lebih cepat dan banyak sehingga menghemat waktu dan biaya dan akibatnya penggunaan tenaga manusia menjadi berkurang.
d) Pengangguran Musiman
Pengangguran secara berkala dalam industri tertentu. Misalkan petani padda saat menunggu hasil panen menjadi pengangguran.

e) Pengangguran Friksional atau Sementara
Yaitu keadaan ketika pekerja untuk sementara menganggur atau sedang tidak bekerja. Misalnya seseorang yang menganggur karena berhenti dari pekerjaan lama dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan baru.
Pengangguran tidak dapat dihapuskan, melainkan hanya dapat dikurangi. Setiap negara akan berusaha menekan pengangguran seminimal mungkin. Pengangguran dapat menimbulkan kerugian bagi si penganggur itu sendiri atau bagi perekonomian negara. Dampak pengangguran antara lain :
1. Turunnya tingkat kemakmuran masyarakat. Seseorang yang menganggur tidak punya sumber pengahasilan. Akibatnya, tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara maksimal.
2. Jika banyak orang yang menganggur berarti banyak orang yang tidak mempunyai pendapatan sehingga permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa sedikit. Ini berarti tidak ada dorongan bagi sektor produksi untuk meningkatkan kegiatannya dan membuat perekonomian lambat.
3. Kemampuan pemerintah untuk menarik pajak sedikit karena pendapatan masyarakat yang rendah.
4. Dapat meningkatkan masalah sosial dan politik, misal dengan banyak penduduk miskin maka timbul kejahatan dan kegiatan ekonomi ilegal seperti hadirnya barang selundupan atau ilegal.
5. Tekanan mental bagi si penganggur karena merasa tidak berguna serta mendapat pandangan negatif masyarakat.
(Fattah 2008 : 307)
3. Kebijakan Pemerintah Dalam Angkatan kerja
Pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah angkatan kerja dengan melalui kebijakan-kebijakan seperti :
1. Membuka kesempatan kerja seluas-luasnya. Kesempatan kerja adalah lowongan pekerjaan yang bdapat diisi oleh pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan. Termasuk dalam lowongan kerja adalah lapangan kerja yang sudah terisi dan masih lowong.
2. Pemerintah banyak menjalankan program-program yang bersifat padat karya (banyak menggunakan tenaga kerja). Akan tetapi program-program hanya bersifat sementara untuk membantu penduduk yang terkena PHK.
3. Meningkatkan taraf hidup penduduk dengan mengadakan penyesuaian Upah Minimum Regional (UMR) dan kebutuhan hidup minimum (KHM).
4. Meningkatkan kemampuan serta keterampilan angkatan kerja dengan banyak mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) atau diklat kerja. Termasuk juga menggiatkan perusahaan-perusahaan untuk mau menerima pekerja magang.
5. Mengeluarkan berbagai peraturan atau perundang-undangan yang diharapkan dapat memenuhi kepentingan semua pihak yang berkaitan, baik buruh maupun pengusaha.
(IPS Terpadu untuk SMP 179 : 2007)
VIII. KERANGKA BERPIKIR
Guru dan siswa merupakan dua faktor penting dalam setiap penyelenggaraan di kelas. Guru sebagai unsur utama dalam proses pembelajaran, membutuhkan keterlibatan siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran. Maka guru harus memiliki strategi dalam pelaksanaannya sebagai tindakan nyata untuk melaksanakan pembelajaran. Oleh sebab itu diperlukan oleh guru merancang model pembelajaran yang efektif, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Salah satu tolok ukur bahwa sebuah proses pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Salah satu tolok ukur bahwa sebuah proses pembelajaran berkualitas atau tidak dapat diketahui melalui proses belajar siswa.
Pendekatan konstektual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produkif dan bermutu. Dalam pembelajaran konstektual intensitas interaksi siswa cukup tinggi karena materi pembelajaran tidak hanya menghafal tetapi mengalami sendiri sedangkan dalam pembelajaran konvensional interaksi intensitasnya rendah karena siswa cenderung sebagai objek pasif dan bergantung pada guru. Dengan demikian hasil merekapun semakin rendah dan hanya anak-anak tertentu yang berhasil.
Berdasar analisis mengenai model pembelajaran dan hasil belajar di atas kiranya cukup kuat untuk menerima kerangka pikir bahwa pembelajaran konstektual lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.











Gb. Kerangka Berpikir
IX. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah “siswa yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model konvesional.
X. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII semester 2 tahun pelajaran 2008/2009 SMP Negeri 1 Mranggen, Kabupaten Demak yang keseluruhan terdiri dari kelas VIIIA, VIIIB, VIIIC, VIIID, VIIIE, VIIIF, VIIIG.



2. Sampel
Pengambilan sampel berdasarkan tekhnik random sampling dan tidak dilakukan secara individu terhadap siswa melainkan kelompok siswa dalam kelas. Hal ini dilakukan dengan alasan
a) Populasi dalam penelitian terdiri dari kelas yang relative sama.
b) Memperoleh materi berdasarkan kurikulum yang sama.
c) Siswa yang menjadi objek penelitian duduk di kelas yang sama.
d) Dalam pembagian kelas tidak ada kelas unggulan.
Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil dua kelas dari delapan kelas anggota populasi. Dari hasil undian diperoleh kelas VIII E sebagai kelas eksperimen, kelas VIII F sebagai kelas control. Jumlah total sampel dalam penelitian ini 80 orang dari 40 siswa kelas VIII E. Untuk menguji coba instrumen diambil satu kelas yang bukan anggota sampel diatas tetapi masih dalam populasi. Dalam hal ini terambil secara acak kelas VIII G sebagai kelas uji coba.
XI. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan dua variable yaitu :
1. Variabel bebas
variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif contextual teaching learning (CTL) dan model pembelajaran konvensional.
2. Variabel terikat
variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar ekonomi pada materi pokok angkatan kerja siswa SMP N 1 Mranggen.
XII. Desain penelitian
Penelitian ini menggunakan pola sebagai berikut :
Kelompok Kondisi awal Perlakuan Tes Akhir
A Q X1, O1 T1
B Q X2, O2 T2

Keterangan :
A : Kelompok eksperimen (dengan model pembelajaran CTL )
B : Kelompok control ( dengan pembelajaran ceramah )
Q : Nilai UTS 2 siswa kelas VIII pada aspek pemahaman konsep
X1 : Pembelajaran CTL
X2 : Pembelajaran ceramah
O1 = O2 : Lembar observasi tentang pelaksanaan pembelajaran CTL dan pembelajaran ceramah dan lembar observasi
T1 = T2 : Tes pemahaman konsep

XIII. Metode pengumpulan data
a. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan metode mencari data tentang hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda dan lain sebagainya (suharsimi, 2002: 206). Metode ini dilakukan dengan mengambil data-data pendukung penelitian yang meliputi data awal, nilai siswa, dan nama siswa.
b. Metode Observasi
Observasi adalah suatu tekhnik yang dilakukan dengan cara pemusatan perhatian secara teliti terhadap suatu objek dengan menggunakan suatu alat indra pengamatan langsung (Arikunto, 2002: 133), metode ini digunakan untuk memperoleh keterangan pelaksanaan pembelajaran CTL dan pelaksanaan pembelajaran konvensional yang akan diterapkan. Lembar observasi berisi langkah-langkah pembelajaran yang harus dilakukan guru dan aktivitas siswa CTL dan ceramah. Observer hanya memberikan tanda cel list (√) pada pilihan jawaban yang sesuai dengan hasil pengamatan.
c. Metode Tes
Metode ini digunakan untuk untuk memperoleh data tentang berapa besar pengaruh penerapan CTL terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Sesuai dengan permasalahan dan variable yang akan diuji dalam penelitian ini instrument yang digunakan adalah jenis tes yakni tes hasil belajar. Bentuk soal yang digunakan dalam tes ini adalah pilihan ganda. Data ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan rata-rata hasil belajar pada aspek pemahaman konsep antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
XIV. Instrumen penelitian
A. Tes
1) Tahap persiapan
Dalam tahap persiapan ada beberapa hal yang dilakukan yaitu sebagai berikut :
1. Menentukan materi yaitu angkatan kerja, permasalahan angkatan kerja dan kebijakan pemerintah dalam angkatan kerja.
2. Menentukan tujuan pengadaan tes yaitu untuk mengetahui kemampuan pemahaman konsep
3. Menentukan waktu yang disediakan dalam tes yaitu dua jam pelajaran (2 X 40 menit )
4. Menentukan bentuk soal yaitu pilihan ganda
5. Membuat kisi-kisi soal
6. Membuat perangkat tes yaitu menulis butir soal dan kunci jawaban.
2) Tahap pelaksanaan
Pada tahap ini, instrument tes yang telah dibuat terlebih dahulu diujicobakan dikelompok uji coba, untuk diuji apakah butir-butir soal tersebut memenuhi syarat tes yang baik atau tidak.
1. Tahap Analisis Soal Uji Coba
Setelah dilakukan uji coba, tiap-tiap butir soal dianalisis untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan taraf kesukaran.
(1). Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 1998: 160). Suatu instrumen di anggap valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari setiap variabel yang diteliti secara tepat. Validitas dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya soal yang akan digunakan dalam model pembelajaran CTL.
Untuk mengukur validitas ini dapat dilakukan dengan mengkorelasikan skor butir angket dengan skor total. Skor butir di anggap sebagai X dan skor total dipandang sebagai Y. Sebuah item butir angket memiliki validitas yang tinggi jika skor pada butir angket memiliki kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi, sehingga untuk mengetahui validitas instrumen digunakan rumus korelasi.
Dalam penelitian ini pengukuran validitas diukur dengan menggunakan bentuk metode stastik. Data yang terkumpul di uji dengan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson (Arikunto, 2006: 170)

Keterangan :
X : skor item yang akan dihitung validitasnya
Y : Skor total dari tiap tes
N : Banyaknya peserta tes
(2). Analisis Reliabilitas
Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik (Arikunto, 2002 : 154). Untuk mengetahui reliabilitas soal tentang efektifitas model pembelajaran CTL pokok materi angkatan kerja siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Mranggen peneliti menggunakan rumus :


dimana Vt = Varian total
dengan

= Reliabilitas instrument
k = banyaknya butir pertanyaan
= jumlah skor total kuadrat
= kuadrat dari jumlah skor
N = jumlah peserta tes
p = banyaknya subjek yang skornya 1
q = banyaknya subjek yang mendapat skor 0
Jika > r\tabel maka tes dikatakan reliabel, sehingga dapat digunakan pada kelas eksperimen dan kontrol.(Arikunto, 2006:187-188).
(3). Daya pembeda soal
Daya beda dicari dengan mengambil skor 50% skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 50 % skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB). Rumus yang digunakan untuk pilihan ganda sebagai berikut:

-
(Arikunto,2002:218-219)
dengan
D = daya pembeda
= Banyaknya peserta kelompok atas
= Banyaknya peserta kelompok bawah
= Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar
= Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar
= Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
= Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
Untuk mengetahui soal-soal yang akan dipakai berdasarkan daya pembeda soal, digunakan klasifikasi sebagai berikut :
D ≤ 0,00 (Sangat Jelek)
0,00 < D ≤ 0,20 (jelek)
0,20 < D ≤ 0,40 (cukup)
0,40 < D ≤ ),70 (baik)
0,70 < D ≤1,00 (baik sekali)
(Arikunto, 1997:2003)
(4). Tingkat kesukaran
Rumus yang digunakan yaitu :

Keterangan :
P = Indeks kesukaran
B = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = Jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria :
0,00 < P < 0,30 Soal sukar
0,30 < P < 0,70 Soal sedang
0,70 < P < 1,00 Soal mudah
(Arikunto, 2002 : 208)

A. Lembar pengamatan
Lembar pengamatan merupakan alat untuk mengumpulkan data berupa sebuah daftar aspek-aspek yang akan diamati. Dalam proses observasi, pengamatan memberikan tanda (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan aspek yang akan diamati. Skor pengamatan untuk siswa bertujuan untuk mengetahui siswa yang aktif selama pembelajaran.
XV. Metode Analisis data
1) UJi Normalitas
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang digunakan merupakan data yang berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis statistik untuk pengujian normalitas adalah

: data berdristibusi normal
: data tidak berdistribusi normal
Untuk menguji normalitas data, pada penelitian ini digunakan uji Chi-kuadrat. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji normalitas data sebagai berikut :
 Menyusun data dan mencari nilai tertinggi maupun terendah
 Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas
 Menghitung rata-rata dan simpangan baku
 Membuat tabulasi data ke dalam interval kelas
 Menghitung nilai z dari setiap batas kelas dengan rumus
(Sudjana, 2002:138)
 Mengubah harga z menjadi luas daerah kurva normal dengan menggunakan table z
 Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva dengan rumus
(Sudjana, 2002:273)
Keterangan :
= Chi-kuadrat
= Frekuensi pengamatan
= Frekuensi yang diharapkan
 Membandingkan harga Chi-kuadrat hitung dengan harga Chi-kuadrat table dengan tarif signifikan 5%
 Menarik kesimpulan, jika hitung < table maka data berdistribusi normal (Sudjana, 2002:273)
2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian memiliki kondisi yang sama atau homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai varians yang sama atau tidak. Sedangkan hipotesis statistiknya adalah.
= varians kedua kelompok homogen
= varians kedua kelompok tidak berubah
Untuk mengetahui apakah varians dari data sama atau tidak maka dilakukan uji homogenitas mengunakan rumus :


(Sudjana, 2002:250)
Kriteria diterima jika < dengan
α = 5%
= (dk pembilang)
= (dk penyebut)

Untuk menguji apakah kedua varians sama atau tidak, hasil yang diperoleh dari rumus diatas dibandingkan dengan Ftabel dengan α = 5 %, dk pembilang = banyaknya data yang variansnya terbesar, dan dk penyebut = banyaknya data yang variansnya terkecil. Jika Fhitung < Ftabel maka varians kedua kelompok sama atau dikatakan Homogen (Sudjana, 2002:303).
3) Uji kesamaan rata-rata
Langkah terakhir dari penelitian ini adalah pengujian hipotesis. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji perbedaan rata-rata, uji satu pihak kanan dengan rumus uji t. uji ini selanjutnya digunakan untuk menentukan efektifitas pembelajaran. Hipotesisnya adalah sebagai berikut.
H0 : , artinya rata-rata hasil belajar pada aspek pemahaman konsep ekonomi siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif Contextual Teaching Learning (CTL) kurang dari atau sama dengan siswa yang dikenai model pembelajaran ekspositori
, artinya rata-rata hasil belajar pada aspek pemahaman konsep ekonomi siswa yang dikenai model pembelajaran kooperatif Contextual Teaching Learning (CTL) lebih dari siswa yang dikenai model pembelajaran ekspositori
Kriteria pengujian adalah terima jika thitung < ttabel, dengan derajat kebebasan (dk) = dan untuk harga yang lain. Karena varians kedua kelompok tersebut tidak berbeda, maka digunakan rumus:






Keterangan :
= Rata-rata nilai kelompok eksperimen
= Rata-rata nilai kelompok control
= Jumlah anggota kelompok eksperimen
= Jumlah anggota kelompok control
= Varians kelompok eksperimen
= Varians kelompok control
= Varians gabungan



























DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri, dkk . 2007 . Psikologi Belajar . Semarang : IKIP Semarang
Press.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Fattah, Sanusi dkk. IPS Terpadu Kelas VIII. Jakarta : CC Teguh Karya.
Handoko, T. Hani. 2005. Dasar-Dasar Manajemen. Yogyakarta
Johnson, Elaine B.2002. Contextual Teaching and learning. Terjemahan oleh Ibnu Setiawan. 2007. Bandung : Mizan Media Utama.
Kasmadi. Hartono. 1991. Tekhnik Mengajar. Semarang: IKIP Press Semarang.
Nana Sudjana, R. Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru
Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Rhinbeka Cipta
Sanjaya, wina.2008.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta. Prenada Media.
Sri martini. 2007. Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Dengan Pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning) Pada Siswa SMA N 1 Tayu Kelas X Semester II Tahun Ajaran 2007/2008. Jurusan Kimia FMIPA UNNES semarang.
S, Nasution. 2000. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2008. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Sinar Baru Algesindo.
Sudjana, Nana. 1999. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta.
Suyanto, Nurhadi. 2007. IPS Ekonomi untuk SMP Kelas VIII, Jakarta : Erlangga
Sugiharsono dkk. IPS Terpadu Kelas VIII edisi 4. Departemen Pendidikan Nasional.
Trianto.2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Hasil Pustaka.

1 comment:

  1. Are you making money from your premium shared links?
    Did you know AdWorkMedia will pay you an average of $500 per 1,000 file downloads?

    ReplyDelete