clicksor

Clicksor

Saturday, January 8, 2011

RAGAM MIKROORGANISME LOKAL (MOL) SEBAGAI STARTER PADA PEMBUATAN PUPUK KOMPOS

Download Disini : http://www.ziddu.com/download/13303480/MOL.doc.html



BAB I
PEDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pembangunan pertanian di Indonesia saat ini memasuki masa transisi dari orientasi pertanian dengan pola subsisten kepada pola komersial. Pergeseran tersebut membawa konsekuensi penggunaan pestisida sebagai salah satu komponen penting dalam mengatasi organisme pengganggu tanaman, salah satu kendala bagi pembangunan pertanian yang berorientasi ekonomi. Namun sejauh ini pemakaian pestisida selalu diikuti dengan pertimbangan ekonomi dan berdampak pada lingkungan. Pasar lebih menyukai produksi pertanian yang bebas bahan kimia, sehingga alternatif pestisida aman bagi lingkungan dan konsumen sangat diperlukan.
Pembatasan penggunaan bahan aktif kimiawi pada proses produksi pertanian pada gilirannya akan sangat membebani pertanian Indonesia yang tingkat ketergantungan petaninya pada pestisida kimiawi masih tinggi. Ketergantungan tersebut akan melemahkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar bebas. Menghadapi kenyataan tersebut agaknya perlu segera diupayakan pengurangan penggunaan pestisida kimiawi dan mengalihkannya pada jenis pestisida yang aman bagi lingkungan. Salah satu alternatif adalah penggunaan MOL (Mikro Organosme Lokal) yang biasa digunakan sebagai starter dalam pembuatan kompos atau biasa disebut dengan pupuk organik.
Pupuk kompos saat ini banyak dicari dan digunakan oleh petani baik untuk budidaya tanaman sayuran maupun untuk tanama padi, tetapi seringkali petani menganggap bahwa pupuk kompos hanya berasal dari kotoran hewan. Padahal bahan yang dapat digunakan sangat banyak dan tersedia dilingkungan sekitar seperti, daun-daunan, jerami dan sampah rumah tangga kecuali plastik Selain ramah terhadap lingkungan, juga dapat menutupi kekurangan suplay(sumber) bahan aktif pestisida yang selama ini diimpor sehingga dapat menghemat devisa negara dan meningkatkan daya saing ekspor produk pertanian.
MOL merupakan bakteri buatan kita (lokal) untuk menyuburkan tanah atau untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos. Berguna seperti nutrisi (vitamin) bagi tanah agar tetap subur. Mol adalah kumpulan mikroorganisme yang bisa “diternakkan,” fungsinya dalam konsep “zero waste” adalah sebagai starter pembuatan kompos organik. Dengan MOL ini maka konsep pengomposan bisa selesai dalam waktu 3 mingguan (Sobirin 2008). Kompos terbuat dari campuran dedaunan segar berwarna hijau dan dedaunan berwarna cokelat atau sampah organik (sisa sayuran) yang sudah dipotong-potong kecil-kecil. Mikroorganisme merupakan mahluk hidup yang mudah beranak-pinak dan berpotensi untuk menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomis tinggi bagi manusia, misalnya antibiotik, vaksin dan enzim. Potensi ini dapat termanfaatkan manakala manusia dapat “membujuk” mikroorganisme ini guna menghasilkan apa yang diharapkan.
Starter digunakan untuk mengurai sampah menjadi kompos. Di toko pertanian sebenarnya dijual starter siap pakai seperti EM4 (Effective Microorganism4) tapi lebih hemat menggunakan starter buatan sendiri. Starter buatan sendiri ini biasa disebut dengan MOL (Mikro Organisme Lokal), yang berfungsi untuk mempercepat pada pembuatan kompos. Bahan yang digunakan untuk membuatnya bisa bermacam-macam. Salah satu contohnya membuat MOL dari nasi, yang baru maupun basi.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraina(uraian) singkat di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan karya ilmiah ini antara lain:
1) (Apa) ragam(jenis) MOL dan bagaimana(bagaimanakah) cara pembuatannya?
2) bagaimana(Bagaimanakah) cara penggunaan MOL sebagai starter(awal) pada pembuatan kompos?

3. Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitia(penelitian) ini adalah:
1) menjelaskan(Menjelaskan) macam-macam MOL dan bagaimana cara pembuatannya.
2) mendeskripsikan(Mendiskripsikan) pemakaian MOL sebagai starter pada pembuatan kompos.
.
3. Manfaat
(tab terlalu menjorok ke kanan)Beberapa manfaat yang didapatkan dengan adanya penulisan karya ilmiah ini antara lain:
1) menambah (Menambah) pengetahuan para pembaca agar memanfaatkan sampah-sampah disekitar kita terutama sampah organik.
2) membrikan(Memberikan) gambaran pada pembaca tentang pembuatan starter pada proses pemgomposan, tentunya dengan cara yang mudah dan biaya yang relatif terjangkau.
3) dapat membantu meringankan sebagian masalah lingkungan, sehingga dapat mengurangi kebutuhan pupuk anorganik.
4) dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kesuburan tanah, karena masyarakat beralih dari pupuk anorganik ke pupuk organik.












BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1 Mikroorganisme
Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil.(Sofa, 2008). Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroorganisme memiliki fleksibilitas metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena ukurannya yang kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan. Dengan demikian enzim yang tidak diperlukan tidak akan disimpan dalam bentuk persediaan.enzim-enzim tertentu yang diperlukan untuk pengolahan bahan makanan akan diproduksi bila bahan makanan tersebut sudah ada.
Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat pembiakannya relatif cepat (Sofa, 2008). Oleh karena aktivitasnya tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.
Sekilas, makna praktis dari mikroorganisme disadari tertutama karena kerugian yang ditimbulkannya pada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Misalnya dalam bidang mikrobiologi kedokteran dan fitopatologi banyak ditemukan mikroorganisme pathogen yang menyebabkan penyakit dengan sifat-sifat kehidupannya yang khas. Walaupun di bidang lain mikroorganisme tampil merugikan, tetapi perannya yang menguntungkan jauh lebih menonjol. Salah satunya yaitu mikroorganisme yang digunakan sebagai starter pada pembuatan kompos.



2.2 Mikro Organisme Lokal (Mol)(MOL)
MOL merupakan bakteri buatan kita (lokal) untuk menyuburkan tanah kita atau untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos. Berguna seperti nutrisi (vitamin) bagi tanah agar tetap subur. Mol(MOL)adalah kumpulan mikro organisme yang bisa “diternakkan,” fungsinya dalam konsep “zero waste” adalah untuk starter pembuatan kompos organik. Dengan MOL(MOL) ini maka konsep pengomposan bisa selesai dalam waktu 3 mingguan(tiga minggu) (Sofa, 2008).
Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, kita bisa membuat MOL dari bahan-bahan seperti buah-buahan busuk (pisang, pepaya, mangga, dan lain-lain), rebung, pucuk tanaman merambat, tulang ikan, keong, urin sapi, bahkan sampai urin manusia, darah hewan, bangkai hewan, air cucian beras, dan sisa makanan (Sobirin, 2008).
MOL semacam bakteri buatan kita (lokal) untuk menyuburkan tanah atau untuk menguraikan sampah organik menjadi kompos. Bahan utamanya terdiri dari tiga jenis komponen :1. Karbohidrat: bisa dari Air cucian beras (tajin), bisa dari nasi bekas (basi), bisa dari singkong, kentang, gandum, yang paling sering menggunakan air tajin. 2. Glukosa: bisa dari gula merah diencerkan dengan air (ditumbuk sampai halus), bisa dari cairan gula pasir, bisa dari gula batu dicairkan, bisa dari air gula, air kelapa. 3. Sumber Bakteri: bisa dari keong, bisa dari kulit buah-buahan misalnya tomat, pepaya, dan lain-lain, lalu bisa juga dari air kencing, atau sesuatu yang mengandung sumber bakteri.

2.3 Kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Yovita, 1999).
Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan-bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek(kompleks) menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi,( ) yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec(stardec) atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya: limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kotak kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertaniah, limbah-limbah agroindustri limbah pabrik kertas, limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit. Adapun bahan organik yang sulit untuk dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan rambut.
Kebanyakan mereka yang senang berkebun memahami nilai kompos untuk tanah dan tanaman. Mungkin saat ini banyak orang tidak tertarik untuk membuat kompos, tetapi ketika kita dihadapkan pada krisis penanggulangan sampah, maka pembuatan kompos dapat menjadi salah satu solusinya.

2.4 . MOL Sebagai Starter dalam Pengomposan
MOL sebagai starter dalam proses pengomposan maksudnya, MOL (Mikroorganisme lokal) merupakan suatu zat tambahan yang digunakan untuk mempercepat proses pembuatan kompos.










BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penulisan
Adapun Pendekatan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini menggunakan pendekatan deskriptif berdasarkan kajian pustaka. Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat memeberikan gambaran secara cermat mengenai keadaan atau gejala terentu pada objek kajian. Dalam hal in penulis mencoba menggambarkan sebuah konsep Aneka Ragam Mol sebagai starter dalam Pembuatan Kompos beserta penerapan atau pemakainnya. Dalam pendeskripsiannya mengacu pada proses pengamatan dan mengkaji atau mencari informasi dalam buku-buku, artikel, wabsite dan pustaka lain yang berhubungan dengan penulisan karya ilmiah ini.

3.2 Sasaran Penulisan
Sasaran penulisan dalam karya ilmiah ini adalah.
1) Mikro Organisme Lokal (MOL)
2) Starter
3) Pupuk Kompos

3.3 Sumber Penelitian
Adapun sumber kajian yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu, penulis melakukan studi pustaka. Sumber kaitan yang digunakan untuk penulisan tersebut meliputi:
1) artikel
2) buku-buku
3) jurnal ilmiah
4) karya tulis
5) artikel dari internet

3.4 Prosedur Penulisan Karya Ilmiah
Adapun langkah-langkah yang dilaku kan (ditujukan) dalam penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:
1) menentukan dan merumuskan masalah
2) mencari dan menyeleksi sumber-sumber kepustakaan yang sesuai
3) menganalisis sumber-sumber untuk menjawab permasalan
4) merumuskan alternatif pemecahan masalah
5) menarik kesimpulan dan merekomendasikan saran
6) menyusun karya tulis




















BAB IV
ANALISIS SINTESIS

4.1 Ragam MOL dan Cara Pembuatannya
Langkah awal pembuatan kompos atau pupuk organik adalah pembiakan mikroorganisme lokal atau yang sebut dengan MOL. MOL tersebut digunakan untuk peragian atau mempercepat pembusukan. Ada beberapa macam pembuatan mikroorganisme lokal (MOL), berikut penjelasannya.

4.1.1 MOL Tapai
MOL tapai atau MOL peuyeum, lebih bersih, karena bahannya juga bersih, dan tidak ada kesan menjijikkan. Bisa tapai singkong atau peuyeum ketan, pilih yang paling mudah didapat. Adapun cara pembuatan MOL tapai tersebut adalah sebagai berikut.
1. Siapkan botol plastik air minum kemasan ukuran besar (1.500 mililiter). Cukup satu botol kosong saja, tidak usah dengan tutupnya.
2. Siapkan tapai atau peuyeum (1 ons), lalu masukkan dalam botol yang sudah disiapkan.
3. Isikan air ke dalam botol (tiga perempat botol) yang telah berisi tapai atau peuyeum.
4. Masukkan gula ke dalam botol yang telah diisi tapai atau peyeum dan air. Bisa menggunakan gula pasir atau gula merah, ± 5 sendok makan.
5. Kocok-kocok sebentar agar gula larut.
6. Biarkan botol terbuka selama empat atau lima hari, hal ini bertujuan agar MOL bisa bernafas.
7. Setelah lima hari, dan kalau dicium akan berbau wangi alkohol, maka MOL bisa dipakai.
8. Jika ingin ”beternak” MOL, maka ambillah botol kosong yang sejenis, lalu bagilah MOL dari botol yang satu ke botol kedua dengan pembagian yang sama. Lalu botol-botol tersebut diisi air sampai hampir penuh, dan kemudian masukan gula ke masing-masing botol dengan takaran seperti di atas. Maka kita punya 2 botol MOL. Bila ingin memperbanyak lagi ke dalam botol-botol yang lain, lakukan dengan cara yang sama.

4.1.2 MOL Nasi Basi
Siapkan nasi basi yang sudah berjamur sebanyak 10 kepal, masukkan kedalam botol plastik air mineral 1.500 ml. Tambahkan air sebanyak ¾ botol, dan 10 sendok makan gula pasir. Botol jangan ditutup, dan biarkan botol terbuka selama MOL berproses, sekitar 5-7 hari. Ciri-ciri yang akan tampak antara lain air keruh, berbau alkohol atau tapai. MOL juga bisa dibuat dari nasi yang tidak termakan. Kepal-kepal nasi sebesar bola pingpong. Letakkan bola-bola nasi dalam kardus, tutupi dengan dedaunan yang sudah membusuk. Dalam waktu tiga hari, akan tumbuh jamur berwarna kuning, jingga, merah pada nasi. Ambil bola-bola nasi yang sudah ditumbuhi jamur, masukkan ke dalam wadah plastik lalu campurkan dengan air gula pasir secukupnya. Biarkan sampai satu minggu sampai cairan berbau seperti tapai, dan cairan tersebut bisa dipakai sebagai starter dalam pembuatan kompos.
MOL yang sudah bisa digunakan sebagai starter untuk membuat kompos terlebih dahulu dicampur dengan air. Perbandingan MOL dengan air adalah 1:5

4.1.3 MOL Buah-buahan
MOL ini terbuat dari campuran 10 liter air kelapa dicampur 1/4 kg gula merah ditambah dengan buah-buahan busuk (pisang, pepaya, semangka, dan lain-lain). Air kelapa berperan sebagai larutan organisme.

4.1.4 MOL Keong/Siput
10 liter air kelapa dicampur 1/4 kga gula merah dicampur dengan 2 kg keong mas ditambah limbah ikan. Untuk menghilangkan bau cukup ditambah dengan empon-empon kunyit sebanyak 1/4 kg dan lengkuas 1/4 kg.
4.1.5 MOL Bonggol Pisang
Bahan yang perlu dipersiapkan adalah 10 liter air, 1/4 kg gula merah, dan batang pisang (ati/ares) di potong-potong ±5 cm. Agar menjadi MOL, biarkan dalam wadah plastik selama 1 minggu.

4.1.6 MOL Sampah Rumah Tangga
Sebagai langkah awal yang harus dilakukan adalah memisahkan masing-masing sampah: organik, plastik, kertas ke masing-masing wadah. Sampah plastik dicuci bersih kemudian dikeringkan. Sampah plastik yang telah bersih dan sampah kertas disimpan ditempat yang aman untuk didaur ulang. Kemudian sampah organik dipisahkan sesuai jenisnya, antara yang mudah membusuk dan yang tak mudah membusuk. Sampah organik yang mudah membusuk antara lain sisa sayur dan sejenisnya. Sampah organik dimasukkan ke dalam tong plastik (jangan gunakan tong kaleng atau logam karena akan mudah berkarat). Lalu beri air sampai terendam. Sisa air kopi, teh manis, sirup, juga bisa dimasukkan. Agar MOL bisa bernafas, maka diberi lubang pada tutup tong. Dalam waktu 5 hari, MOL bisa dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan kompos. Sebelum digunakan, cairan MOL sebaiknya disaring terlebih dahulu 9Sobirin, 2008).
Bahan-bahan yang sudah diramu tersebut disebut dengan mikroorganisme lokal (MOL). Ramuan tersebut kemudian diletakkan dalam wadah kemudian ditutup dengan rapat dan aduk 2-3 kali sehari. Sekitar 7-15 hari kemudian, cairan atau ramuan yang sudah dibuat itu siap digunakan untuk pembuatan kompos/pupuk organik

4.2 MOL sebagai Starter pada Pembuatan Kompos
Bahan yang digunakan pembuatan pupuk organik adalah kotoran hewan, serbuk gergaji, abu bekas pembakaran, dan mikroorganisme lokal yang telah diramu. Jika kita ingin membuat pupuk organik sebanyak 1 ton, pupuk kandang (kotoran binatang) yang diperlukan adalah 500kg, serbuk gergaji 400 kg, abu bakar sebanyak 100 kg dan 5 liter MOL.
Selanjutnya, siapkan terpal dengan ukuran secukupnya sebagai alas dasar. Kemudian, pupuk kandang ditaburkan dengan ketinggian 15-20 cm, abu bakar ditaburkan di atasnya kemudian diaduk hingga merata.
Setelah kedua bahan itu diaduk rata, serbuk gergaji ditaburkan di atasnya kemudian diaduk kembali hingga rata. Setelah bahan-bahan itu diaduk merata, langkah terkahir adalah memberikan larutan MOL yang telah diramu sebelumnya.
Setelah bahan pupuk diaduk rata, adukan tersebut dikumpulkan hingga ketinggian 50-75 cm lalu ditutup dengan terpal atau plastik dengan terbungkus rapi dan rapat. Sekitar 3-5 hari adukan yang dikumpulkan itu dibongkar kembali dan diaduk ulang untuk mendapatkan hasil pupuk organik yang baik. Setelah 7-10 hari pupuk organik tersebut siap digunakan.
Pupuk organik bisa dijadikan pupuk dasar dengan dosis 500 kg/hektare. Pupuk organik itu diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah terkahir pada saat perataan tanah lahan pertanian. Pupuk tersebut disebar dilahan yang akan ditanami. Tentu saja dilakukan sebelum penanaman (Sobirin, 2008). Selain diberikan pada saat pengolahan tanah sebelum penanaman, pupuk organik itu juga dapat diberikan pada tanaman berusia hingga 5-7 hari setelah tanam. Pupuk organik atau kompos ini berguna pada jenis tanaman apa pun. Seperti tanaman padi, jagung, holtikultura, bunga, perkebunan. Pupuk ini juga bisa diberikan pada tanaman umurnya tahunan. Pupuk organik diberikan pada bagian bawah tanaman secara melingkar dan takarannya sekitar 20 kg/pohon kemudian ditutup kembali.
Selain untuk starter kompos, MOL bisa juga dipakai untuk pupuk cair dengan cara diencerkan terlebih dahulu, 1 bagian MOL dicampur 15 bagian air. Siramkan pada tanah di sekitar tanaman. Upayakan jangan mengenai batang tanaman (nntuk anggrek), karena anggrek tumbuh di pakis dan akarnya menonjol.


BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasakan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab IV, simpulan yang dapat dipaparkan adalah sebagai berikut.
1. Membuat atau menghasilkan mikroorganisme lokal atau lebih sering dikenal dengan nama MOL bisa dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar seperti buah-buahan busuk (pisang, pepaya, mangga, dan lain-lain), rebung, pucuk tanaman merambat, tulang ikan, keong, urin sapi, bahkan sampai urin manusia, darah hewan, bangkai hewan, air cucian beras, dan sisa makanan. Cara pemembuatan MOL itu sendiri cukup mudah, semua bahan dicampur dengan yang manis-manis seperti air nira, air gula, bahkan air kelapa juga bisa kita gunakan. Lalu ditutup menggunakan penutup yang diberi lubang-lubang agar MOL bisa bernafas. Karena prosesnya aerob, kemudian dibiarkan sampai 7 hari dan MOL siap digunakan.
2. Bahan dasar pupuk organik bisa diperoleh dari kotoran hewan, sampah yang sudah membusuk, termasuk bahan makanan yang sudah busuk, serbuk gergaji, dan dedak hasil gilingan padi. Proses pembuatan pupuk organik juga sangat mudah. Bahan yang sudah tersedia, dicampur atau diaduk, dan ditambah cairan untuk mempercepat proses jadi pupuk tersebut. Jenis obat organisme itu adalah MOL.

5.2 Saran
Dengan adanya penelitian ini diharapkan para pembaca bisa menemukan bahan alternatif lain yang juga bisa digunakan sebagai starter pada pembuatan kompos atau organik agar mengurangi pemakaian pupuk kimia, sehingga bisa menjaga kesuburan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Djoehana, Setyo Mijoyo. 1986. Pupuk dan Pemupukan. Jakarta: CV Simplex
Santoso, N. B. 2004. Penggunaan Pupuk Organik dari Serbuk Gergaji Kayu Sengon yang didekomposisi dengan Dekomposer EM4 untuk Memupuk Tanaman Sawi. Krya Ilmiah. Universitas Negeri Semarang.
Yovita, Hety Indriani. 1999. Membuat Kompos Secara Kilat. Jakarta: Panebar Swadaya.
Yuniastuti, A. dan Indriani, D. R. 2000. Pembusukan Daging Oleh Mikroorganisme dan Pengawetannya. Media Mipa. 20-25. Universitas Negeri Semarang.
Andreas. http://organicfield.wordpress.com/2008/05/06/pembuatan-startermol-mikro-organisme-lokal-oleh-petani/. Diunduh pada 29/06/09
Sobirin. Beternak Mikroorganisme Lokal. http://clearwaste.blogspot.com/2007/12/beternak-mikro-organisme-lokal.html. Diunduh pada 05/06/09.
Sofa. Mikroorganisme, Bakteri dan Virus. http://massofa.wordpress.com/2008/02/05/mikroorganisme-bakteri-dan-virus/. Diunduh pada 05/06/09.
Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Mikroorganisme. Diunduh pada 29/06/09.


Tugas MKU Bahasa Indonesia:
1. Identifikasilah bentuk kesalahan pada karya tulis di atas dari bab I hingga daftar pustaka!

Pengampu MKU
Mujimin

Kesalahan-kesalahan dalam penulisan karya ilmiah di atas adalah :

1 comment:

  1. saya mau naya kalau mau mencari referensi tentang mol keong mas di mna ya
    terima kasih

    ReplyDelete